🏅 Bittersweet of Marriage July 2023
(FOLLOW DULU SEBELUM BACA YA! Harap tinggalkan jejak untuk menghargai penulis)
Genre: Spiritual, Romance.
**✿❀Description❀✿**
Ini kisah insan yang menjaga. Menjaga cinta, menjaga persahabatan, juga menjaga kesuc...
"Kamu tak perlu menjadi langit yang bisa selalu ia pandang ... cukup menjadi matahari yang dapat menghangatkan jiwa dan menjadi bulan yang hanya bisa dilihat di waktu malam saja dan ketika dilihat memancarkan cahaya yang teduh." —Laila Zahroh
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Laila pun mengambil plastik yang berisi makanan tersebut dari ibunya dan ia pun mengambil keranjang buah yang ibunya taruh di meja untuk dikembalikan ke tempatnya. Laila pun segera menuju ke dapur untuk mengambil peralatan makan.
"Oh, adiknya Fadil khitanan toh." Laila melihat kartu ucapan dari nasi kotak tersebut. Tetangganya yang bernama Fadil itu sangatlah akrab dengan ibunya karena seumuran dengan Laila.
Nanti aku mampir deh buat ngucapin terima kasih atas makanannya, batin Laila.
Laila melihat jam di rumahnya yang menunjukkan angka 13.15 dan Laila pun bersiap-siap untuk pergi menuju rumah Fadil. Ia melirik ke meja makan, terdapat buah-buahan yang bisa dijadikan sebagai buah tangan. Laila langsung mengambil kotak dan pita untuk membungkus buah yang ada di meja tersebut.
Selesai membungkus, Laila mengambil tas dan ponsel lalu menghampiri ibunya dan berkata, "Ibu, Laila mau pergi sebentar mampir ke rumah Fadil ya, Bu. Mau ngucapin terima kasih dan selamat juga buat adiknya," katanya.
"Oh iya, ibu titip salam ya Nak ke Fadil sama mamanya," balas Bu Hafidzah.
"Ya, Bu. Kalau begitu Laila berangkat dulu, Assalamu'alaikum," salam Laila sambil mengangkat tangan ibunya untuk ia salami.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, La. Hati-hati ya, Nak," jawab ibunya.
Laila membuka pintu dan pergi menuju rumah Fadil. Banyak orang-orang yang ia lewati lalu ia balas dengan senyuman. Ia sangatlah senang melihat orang-orang yang ia senyumi tersenyum karena baginya dalam senyuman terdapat kebahagiaan tersendiri untuknya.
"Laila, mau ke mana?" sapa ibu-ibu yang lewat.
"Ini mau ke rumah temen, Bu." sahut Laila sambil mengangkat plastik yang berisi kotak buah.
"Iya, silakan. Hati-hati di jalan," ucap ibu-ibu tersebut.
"Iya, Bu." Laila tersenyum menjawabnya. Ia melanjutkan perjalanan menuju rumah Fadil.
Sesampainya di rumah Fadil, dirinya melihat sekeliling. Ramai, itulah kata yang tepat untuk menandakan bahwa rumah Fadil saat ini. Banyak warga yang mengucapkan selamat kepada adik Fadil dan Fadil yang berada di depan pintu rumah sambil tersenyum. Fadil yang merasakan keberadaan Laila akhirnya langsung menoleh pada Laila.
Fadil melihat Laila celingak-celinguk seperti orang kebingungan pun berinisiatif menghampiri Laila.
"Assalamu'alaikum, wahai Ukhti," salam yang diucapkan Fadil mampu membuat Laila kaget.
"Eh, iya. Waalaikumussalam, Dil." Laila menoleh dan terkaget.
Fadil yang tak sengaja melihat wajah Laila pun segera menundukkan pandangannya. "Ada apa kemari, Laila?" tanyanya memastikan. Laila adalah teman seangkatannya di pesantren. Karena jarang bertemu, Laila lupa dengan perawakan Fadil Abian.
"Ini ... aku mau ngucapin terima kasih buat makanannya sekaligus mau ngucapin selamat buat adikmu yang khitanan." Laila memberikan sebuah plastik yang berisi kotak buah tersebut, lalu Fadil pun melihat plastik itu dan membukanya. Tersusun rapi buah-buahan yang berada di kotak tersebut ketika Fadil membukanya.
"MasyaAllah sampai repot-repot terima kasih ya, Laila," ucap Fadil dengan senyuman. Laila pun ikut tersenyum. "La, gak mau mampir dulu?" tawarnya.
"Gak usah, mau pulang lagi aku juga, Dil. Sampaikan salamku ke adikmu ya, Dil. Aku mau pulang dulu. Assalamu'alaikum!" pamit Laila sambil melambaikan tangan dan Fadil pun tersenyum ketika melihat punggung Laila yang membelakangi dirinya.
Fadil berbalik badan untuk kembali ke rumahnya dengan meninggalkan senyuman yang masih tersisa di pipinya.
Di pintu rumah Fadil, terdapat ibunya yang menunggu dan melihat anaknya pulang.
"Habis dari mana, Dil?" tanya ibunya.
"Habis ketemu Laila tadi, Mah. Laila ngasih buah buat adik," jawab Fadil sambil menyodorkan plastik yang diberikan oleh Laila.
Ibunya tersenyum lalu mengelus kepala anaknya dan berkata, "Owalah, habis ketemu seseorang toh." Ibunya terkekeh namun Fadil hanya tersenyum mendengarnya.
Di sisi lain, Laila sudah berada di rumah sedang menyiapkan buku-buku yang sekiranya bisa ia taruh di perpustakaan dan ia sedang mencari buku-buku di toko online untuk anak-anak pesantren di sana.
Laila melihat sebuah kardus yang berisi buku-buku pelajarannya dulu dan ia pun melihat buku yang ia sukai yaitu buku Menjadi Wanita Shalihah. Bisa dibilang, buku itulah yang menuntunnya menjadi seperti saat ini. Dia giat beribadah karena ingin bertemu dengan Allah bukan karena surga semata. Baginya, untuk apa memasuki surga tanpa bisa bertemu dengan Allah? Bukankah yang kita inginkan adalah bertemu Allah selama ini?
"Buku ini aku bawa ke pesantren aja kali, ya?" gumamnya sambil memegang buku tersebut agar anak-anak pesantren bisa membaca dan mengikuti jejaknya pula. Dia senang jika anak didiknya bisa melampaui dirinya, bukankah itu yang diinginkan seorang guru kepada muridnya agar muridnya dapat melampaui dirinya?
PonselnyabergetardanLaila segera mengambilnya kemudian ia membaca siapa yang memanggilnya.
Aisyah, itulah nama yang muncul sebagai panggilan yang tak terjawab.
Aisyah
Assalamu'alaikum, La.
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, ada apa Ais?
La, kata Ustaz Heri nanti di pesantren ada Tabligh Akbar mau ikut, gak?
In syaa Allah, kalo ada waktu aku mau ikut Ais.
Kamu ikut juga?
Iya, Zahra sama Hannah ikut juga kok nanti.
Alhamdulillah, syukran infonya. Nanti kita ketemu lagi ya!
Afwan, La. Aku jemput ya nanti.
"Alhamdulillah. Zahra, Ais, dan Hannah ikut Tabligh Akbar," syukur Laila yang gemar mengikuti acara pesantrennya dan ia akan mengisi sholawat pembukaan seperti biasa. Laila mengambil sebuah tas untuk ia masukkan buku-buku yang akan ia bawa ke pesantren malam nanti setelah Isya.
Bersambung... Jangan lupa vote dan komennya ❤️❤️❤️ Setuju gak nih Lailatul Qadar ganti cover?👀 Ditunggu yaaaaa!