🏅 Bittersweet of Marriage July 2023
(FOLLOW DULU SEBELUM BACA YA! Harap tinggalkan jejak untuk menghargai penulis)
Genre: Spiritual, Romance.
**✿❀Description❀✿**
Ini kisah insan yang menjaga. Menjaga cinta, menjaga persahabatan, juga menjaga kesuc...
"Aku hanya ingin bahagia dengan orang yang kucinta, bukan dengan orang yang tak kucintai sedikit pun." —Hannah Annisa Nadhira
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fauzan dan Hasan mengakhiri pertemuan mereka. Sampai di situ, mereka berbalik arah menuju kendaraan masing-masing. Fauzan mendongakkan kepalanya untuk melihat langit biru yang sangat cerah diterangi oleh cahaya mentari yang lembut.
Dam, lihat diri gue sekarang. Apa elo yakin gue bisa jalani hidup?
Fauzan menghembuskan nafasnya. Ia melanjutkan perjalanannya ke parkiran untuk mengambil motor. Sampai di parkiran, ia merogoh sakunya, menyalakan motor, dan menaikinya untuk pulang. Ia berencana ingin mengebut di jalanan.
Laila sedang berada di toko kue. Ia berencana ingin memberikan hadiah untuk Hannah agar Hannah tak murung. Laila tahu Hannah sangat menyukai cheesecake, jadi Laila membelikannya.
Hannah pasti sedih karena cintanya pupus di tengah jalan. Semoga dengan ini bisa mengembalikan senyumnya. Laila menatap kue itu dengan senyuman. Kue yang sedang dikemas membuatnya menunggu dengan harapan kebahagiaan.
Kue selesai dikemas. Pelayan memberikannya pada Laila di meja kasir, mentotal harga, serta memberikan struk belanja pada Laila. Laila tersenyum dan membayarnya menggunakan uang pas.
"Terima kasih sudah berbelanja," ujar pelayan kasir.
"Iya. Terima kasih kembali," balas Laila tersenyum mengambil bungkusan kue. Ia pergi keluar toko untuk memanggil ojek online kemudian menghubungi Aisyah. Mereka berencana ingin membahagiakan temannya. Meski dengan hadiah yang tak seberapa, semoga Hannah bisa bahagia. Pikir Laila. Ia tersenyum menatap plastik kue.
Perasaan Hannah tak enak. Ia tak ingin bertemu dengan Hasan kembali. Ia ingin sekali membatalkan perjodohan ini, namun ia juga memikirkan bagaimana perasaan ibunya jika ia menolak? Lagipula selama ini, segala perjuangannya untuk membahagiakan orang tua.
Hannah sudah bersiap-siap. Ia menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya. Air mata sudah berlinang di pelupuk mata. Namun sebisa mungkin ia tahan sekuat tenaga. Hannah melihat dirinya di kaca kemudian ia menepuk kedua pipinya. Menyemangati diri.
"Yuk bisa, Han. Kamu kuat," gumamnya.
Hannah mengambil tas di kasur, memakainya, kemudian keluar kamar dan mengunci pintunya. Ia menghampiri sang ibu untuk berangkat bersama ke sebuah kafe di mana Adeera dan Hasan menunggu.
"Sudah siap, Nak?" tanya Winna melihat anaknya sudah berpakaian rapi.
Hannah mengangguk dengan wajah datarnya. "Sudah, Ma. Kita jadi berangkat?"