🏅 Bittersweet of Marriage July 2023
(FOLLOW DULU SEBELUM BACA YA! Harap tinggalkan jejak untuk menghargai penulis)
Genre: Spiritual, Romance.
**✿❀Description❀✿**
Ini kisah insan yang menjaga. Menjaga cinta, menjaga persahabatan, juga menjaga kesuc...
"Bukan tentang siapa orangnya yang menasehati, tapi perhatikan apa nasehat yang keluar dari mulutnya." —Laila Zahroh
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Azan berkumandang, para santri bersiap-siap untuk salat. Sebagian dari mereka ada yang sedang mandi karena mandi bergantian. Laila dan tiga sahabatnya sudah lebih dulu bangun dari jam tiga dini hari. Mereka mandi duluan sebelum para santri ramai mengantri di kamar mandi.
Ayam berkokok sedari Subuh. Anak-anak santri sudah ramai berkumpul di aula. Laila sibuk membersihkan meja dan Aisyah menggelar taplak meja untuk persediaan makanan. Di pojok aula sebelah kanan terdiri dari banyaknya meja-meja dan wadah prasmanan yang masih kosong.
Di dapur, Hannah dan Zahra sangat sibuk. Selain memasak mereka juga mengajarkan para santri putri yang masih bersekolah di pesantren itu memasak agar kelak mereka bisa menjadi istri yang sudi membantu suami perihal makanan. Memang, memasak adalah kewajiban suami tapi tidakkah kita berpikir bahwa suami kita telah capai karena harus berjuang mencari nafkah untuk keluarganya?
Laila melihat di sekelilingnya terdapat banyak santri putri tengah membantunya membersihkan meja sekaligus memasangkan sarung kursi untuk para tamu undangan.
Areliya sedang menunggu sesuatu. Entah apa yang ditunggu olehnya, sepertinya dia menunggu kedatangan seseorang. Aisyah pun lewat di depan Areliya.
"Ais!"
Aisyah pun tersentak kaget karena ia sedang mengambil kain yang akan dijadikan taplak meja. Areliya berlari menuju Aisyah membawa sebuah tas karton.
"Kenapa, Rel?" Aisyah memperhatikan wajah Areliya yang terlihat gugup ingin memberikan sesuatu padanya.
"I-ini," ujar Areliya dengan gugup, "ini buat kalian berempat." Areliya memberikan sebuah tas karton.
Aisyah melihatnya dengan wajah yang bingung, akhirnya ia pun mengambil pemberian Areliya lalu ia telusuri apa yang ada di dalam tas tersebut.
"MasyaAllah. Terima kasih banyak ya, Rel." Aisyah kemudian melihat isi tas tersebut.
"Afwan, Ais! Sampaikan maafku ke Laila yaa!" teriak Areliya lalu ia berlari keluar aula.
"Iya, Rel. In syaa Allah aku sampaikan pesanmu." Aisyah tak sabar membicarakan ini pada Laila, Hannah dan Zahra. Bahwa akhirnya mereka semua bisa berbaikan dengan Areliya Liya—kawan lama mereka.
Aisyah pun berjalan cepat menuju Laila untuk membagikan pemberian Areliya yang kini berada di tangannya.
"La, ada pemberian dari Areliya nih."
Mendengar hal itu, Laila bahagia karena akhirnya Areliya berkomunikasi meski sedikit dengan Aisyah. Mungkin, akan ada hal lain yang datang dari Areliya untuknya. pikir Laila.
"Eh? Apa itu, Ais?" tanya Laila sambil melihat tas karton itu.
"Liat aja dulu isinya apa. Nih." Aisyah memberikan tas karton itu pada Laila dengan tujuan agar Laila melihat isinya.