14. Zahra & Saddam

244 47 26
                                        

"Lelaki yang serius akan memintamu pada orang tuamu, bukan hanya pada dirimu."
-Zahra Shafa Aghniya

Zahra berlari sambil membawa tas putihnya menghampiri Laila

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Zahra berlari sambil membawa tas putihnya menghampiri Laila. Dirinya tak pernah sadar bahwa ada dua orang lelaki yang berada di hadapan Laila.

Zahra sudah berada di samping Laila, ia tersentak kaget dan membelalakkan matanya melihat Saddam dan Fadil. Bahaya! Zahra tak berpikir sebelum bertindak.

Akhirnya, Zahra terdiam di samping Laila dan Saddam melihat Zahra ingin sekali tertawa namun ia urungkan niat itu.

"A-assalamu'alaikum, maaf. Ini ... siapa, La?" gugup Zahra, ia memegang erat tasnya di bahu kanannya.

"Mereka? Dia yang di hadapanku ini tetanggaku, Zah. Namanya Fadil Abian. Kalau yang ini temennya di pesantren, namanya Saddam Firdaus." Laila menunjuk pada Fadil dan Saddam untuk memperkenalkan. Saddam hanya tersenyum.

"Baiklah, salam kenal. Saya Zahra Shafa Aghniya." Zahra melirik pada Laila memberi kode bahwa Aisyah dan Hannah akan datang pada mereka.

"Iya, salam kenal, Zahra." Saddam menekankan namanya, Zahra makin gugup dan ia segera menoleh ke arah Hannah dan Aisyah yang sudah berjalan menuju mereka.

"Ayo, La, kita duluan," ajak Zahra memberi kode pada Laila agar mengakhiri percakapan ini.

"Oke. Dil, Dam, kami pergi dulu ya, Assalamu'alaikum," pamit Laila, Zahra menggandeng tangan Laila dan bernafas lega karena Laila peka.

"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka secara bersamaan. Zahra dan Laila pergi ke arah Aisyah dan Hannah. Mereka berempat menuju tempat parkir motor untuk melakukan perjalanan.

"Ternyata, gw jatuh cinta sama temennya tetangga elu, ya, Dil," ucap Saddam sambil tertawa dan Fadil pun tertawa kecil.

"Bismillah, takdir bukan sekedar hadir, ya, gak? Berdoa aja terus minta sama Allah, jangan lupa istikharah, Dam." Fadil menepuk bahu Saddam dengan senyuman.

"Istikharah dulu, dia memang bukan sebuah pilihan tetapi alangkah baiknya Allah langsung yang memberi keputusan atas cinta ini," respon Saddam. Fadil hanya terkekeh mendengarnya.

Saddam dan Fadil pun pergi menuju Hasan dan Fauzan yang sedang membereskan aula.

Di sisi lain, para akhwat sudah berada di jalan raya menaiki motor menuju ladang bunga yang Aisyah sukai.

Sesampainya di sana, mereka dengan gembira berlarian dan Hannah memotret beberapa foto untuk dijadikan kenangan.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lailatul Qadar(END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang