25. Tak Sengaja

148 22 15
                                        

"Kamu itu berharga. Jadi jangan jatuhi harga dirimu demi seseorang yang tak tahu caranya menghargai."

—Fauzan Al Baihaqi

Fauzan dan kawan-kawan berada di mobil yang sama dengan Saddam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Fauzan dan kawan-kawan berada di mobil yang sama dengan Saddam. Mereka menaiki mobil Hasan karena mobil Saddam digunakan sebagai kendaraan keluarga kali ini.

"San, gue turun di kafe aja, ya? Gue mau nyantai," kata Fauzan.

Hasan mengernyitkan dahi. "Oke. As your wish."

Hasan berhenti di suatu kafe dekat perempatan jalan raya. Fauzan pamit dan keluar dari mobil untuk nongkrong di kafe tersebut.

"Hati-hati, Zan!" seru Fadil. Mereka semua bertujuan untuk pulang dan tak berniat untuk kembali ke rumah Zahra. Fauzan menoleh ke arah mereka dan mengangguk. 

Fadil menutup kaca jendela pintu mobil dan Hasan segera melajukan mobilnya. Diiringi dengan canda tawa.

Fauzan duduk di salah satu kursi dan mengecas ponselnya untuk sementara. Ia duduk bertepatan dengan jendela kaca di sampingnya yang membuat kafe tersebut aesthetic. Dari luar, terlihat sekali isi kafe yang lumayan ramai.

"Mbak!" panggil Fauzan. "Minta buku menunya boleh?"

Pelayan itu mengambilkan buku menu dan berjalan menghampiri Fauzan.

"Ini, Mas. Silakan dipesan." Pelayan itu tersenyum. 

"Baik, terima kasih." Fauzan membuka buku menu.

Fauzan melihat menu dengan teliti agar ia tak salah pilih. Lembar demi lembar halaman sudah terlewati namun tak ada yang menarik baginya. Fauzan akhirnya memilih spaghetti dan teh leci. Pelayan langsung mencatat pesanannya dengan cepat.

"Ada tambahan lagi?" tanya pelayan itu dengan ramah.

"Sudah, ini saja," balas Fauzan.  

"Baik. Mohon ditunggu." Pelayan itu mengambil buku menu dan pergi ke bagian koki.

Fauzan melihat ke luar jendela. Dia ingin bersantai sebentar untuk mengenang ibunya yang telah lama meninggal. Ia tersenyum tipis.

"Ummi. Ummi kangen Ujan, gak?" tanya Fauzan dengan mata berkaca-kaca, "Ujan kangen."

Terlihat seorang pelayan membawakan nampan saji yang memuat pesanan Fauzan berjalan menghampiri Fauzan. Fauzan tersadar segera mengusap matanya. Bertepatan di saat itu, Hannah masuk ke dalam kafe.

"Terima kasih, Mbak." Fauzan berterima kasih. Pelayan tersebut tersenyum dan pergi ke kasir.

Hannah berada di kasir untuk menanyakan ketersediaan menu yang ia pilih. Dengan cepat pelayan di kasir memberitahu Hannah bahwa semua menu tersedia dan dapat dipesan olehnya. 

"Kalau begitu saya mau nasi goreng telur asin, ya? Minumannya es teh leci," ujar Hannah. Fauzan merasa telah mendengar suara tak asing. Ia mengedarkan pandangannya.

Fauzan ingat. Itu adalah suara teman Zahra yang berada di rumah Zahra. Ketika Hannah berbalik menuju meja, Fauzan melihatnya.

Itu bukannya teman Zahra, ya? 

Berdegup kencang hati Fauzan. Merupakan suatu kebetulan mereka bisa bertemu di sini.

Hannah menggulir layar ponselnya. Entah sudah yang keberapa kali. Ia hanya bosan. Ia tak sadar bahwa ada seseorang yang mengawasi. 

Fauzan fokus menyantap makanannya. Hingga habis, ia sedikit mengawasi apa yang dilakukan oleh Hannah—wanita yang dicintainya.

Hannah merasa ada mata yang menatapnya, ia menatap bangku di depannya. Fauzan terciduk berada di sana. Hannah mengernyitkan dahinya.

Mereka saling bertatapan. Hannah mengalihkan pandangannya ke pelayan yang membawakan pesanan Hannah. Fauzan melihat minuman yang mereka pesan sama. Ia tersenyum.

Hannah bingung ingin berkata apa. Jadi ia memutuskan untuk menyantap makanannya hingga habis. Fauzan hanya melihat Hannah sekilas kemudian tersenyum lebar. Kebetulan sekali bertemu dengan Hannah di sini.

"Duh, aku harus gimana, ya? Di depan temen calonnya Zahra. Kok bisa di sini, sih?" gerutu Hannah bersuara rendah. Beruntung Fauzan tak mendengarnya.

Fauzan menghampiri Hannah dan berkata, "Temannya Zahra, ya?" 

Hannah terlonjak kaget. "Iya. Kamu teman calonnya Zahra, kan?"

"Iya. Kenalin, saya Fauzan Al Baihaqi. Namamu siapa?" tanya Fauzan yang masih terduduk di bangku. 

"Panggil saja Hannah." Hannah mengeratkan genggaman pada gamisnya. Fauzan mengangguk.

"Apa saya boleh duduk di depanmu? Kita pisah meja. Jadi tak perlu khawatir. Jika keberatan, aku bisa pindah ke tempat lain," kata Fauzan. Hannah tersentak kaget. Ia ingin mencegah Fauzan agar tak pergi dari meja depan. 

"Boleh saja. Selama tak mengangguku." Hannah menyeruput teh leci.

"Baik, terima kasih." Fauzan membalikkan tubuhnya dari Hannah. Wajahnya merona tipis.

Dasar hati. Gak bisa diajak kerja sama, batin Fauzan malu.

Hannah menghubungi Laila dan lainnya. Mengabari bahwa ia sudah sampai di kafe dan selesai makan. Hannah tak bilang bahwa ada Fauzan di sini.

"Maaf, Zan?" tanya Hannah, "Saddam dan lainnya mana, ya? Kok hanya kamu di sini?" 

Fauzan menoleh ke arah Hannah. "Ohh, mereka pulang duluan. Kalau saya pribadi lagi pengen nyantai aja."

"Oh gitu. Kalau begitu saya pamit pulang dulu, ya. Karena ada urusan. Assalamu'alaikum." Hannah beranjak dari kursi dan berlari kecil keluar dari kafe.

"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Fauzan, "nama panjangmu siapa, Han?!" teriak Fauzan memanggil Hannah.

Hannah hanya memberikan senyum pada Fauzan. Meninggalkan Fauzan seorang diri tanpa jawaban dari pertanyaannya. Hannah menaiki motor dan segera melajukan motornya pergi dari kawasan kafe sementara Fauzan berlari ke luar untuk menghampirinya.

"Perempuan ini emang beda," gumam Fauzan menggelengkan kepalanya.

Jantung Hannah tidak aman! Hannah melajukan motornya dengan senyuman yang berusaha ia tahan sebisa mungkin. Ia ingin sekali tersenyum lebar tetapi dia takut dikira orang gila. Pikir Hannah.

Sesampainya di rumah, Hannah mengucapkan salam dan membuka pintu rumah. Ia melihat sekeliling. Mengapa tak ada jawaban dari ibunya? 

"Ma?" Suara Hannah menggema.

Karena khawatir, Hannah menaruh tasnya di meja makan dan berlari ke dapur. Ia ingin tahu keberadaan ibunya. Ibunya sering berada di dapur atau terkadang, berada di kamar untuk sekadar rebahan.

Hannah tak menemukannya. Dia mulai panik.

"Mama?! Mama di mana?" teriak Hannah mondar-mandir ke sana-kemari. 

Ia buru-buru membuka ponselnya untuk melihat notifikasi pesan. Ia mematikan suara ponselnya sejak berada di rumah Zahra agar tak menganggu acara.

Hannah menggulir layar dan mencari pesan dari sang ibu. Rupanya, sang ibu sudah izin terlebih dahulu saat ia berada di kafe. Setelah membaca pesan ibunya, Hannah merasa tenang. 

Untung gak tau aku teriak-teriak panik tadi, batin Hannah malu. Hannah melihat sekeliling dan memutuskan untuk bersih-bersih rumah. Karena hari ini dia libur, jadi dia ingin fokus dengan kegiatan di rumah sembari meminta tolong Zahra membuat desain untuk buku menu.

Bersambung ....





Lailatul Qadar(END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang