26. Hari Bahagia

183 21 17
                                        

"Selama masih bisa membahagiakan orang lain, mengapa kau memilih untuk berkelut dalam kesedihan?"

Zahra Shafa Aghniya

—Zahra Shafa Aghniya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dua minggu kemudian. Zahra di kamar sedang tersenyum senang karena hari ini adalah hari di mana ia akan menyebar undangan. Ia juga telah selesai memilih baju pengantin untuk dirinya dan Saddam. Zahra senang sekali karena saat ini, Zakiyya menemaninya menulis nama-nama orang yang kelak akan mereka undang.

"Kiya. Tolong ambilkan tiga undangan lagi." Zahra menunjuk ke arah belakang di mana terdapat tumpukan undangan tak bernama.

Zakiyya mengangguk. Zakiyya mengambil undangan-undangan dengan tatapan sendu. Mengapa hatinya berat sekali untuk melepaskan sang kakak. Seperti ada sepi yang menghantui.

Zakiyya menyodorkan undangan pada Zahra. "Ini, Kak."

"Terima kasih, Kiya. Doakan semuanya lancar, ya," kata Zahra.

"Pasti, Kak. Hehe." Zakiyya tersenyum palsu. Dalam hati, ia belum rela.

Zahra menatap senyuman Zakiyya yang palsu. Mungkin, Zakiyya sedih. Pikir Zahra.

"Kiya ... nanti, kalau suatu hari Kakak pergi, bahagia terus, ya?" Zahra memeluk Zakiyya dengan erat.

Zakiyya membelalakkan matanya. Apa maksud perkataan sang kakak?

"Apa maksud Kakak? Bukannya Kakak cuma mau pergi dari rumah ini karena Kakak ikut Kak Saddam?" tanya Zakiyya heran.

Zahra hanya tersenyum saja. Ia melanjutkan menulis nama-nama tamu yang akan diundang.

"Kak? Jawab, dong," rengek Zakiyya.

"Nanti kamu bakal ngerti, Kiya. Ayo kita fokus nulis nama tamu dulu."

Zakiyya merengut. Akhirnya ia membantu Zahra untuk menuliskan nama-nama tamu.

Selesai menulis nama-nama, Zahra memasak makanan untuk Zakiyya. Opor ayam dan capcay kesukaan Zakiyya. Mereka makan siang hanya berdua saja karena orang tua mereka sedang pergi bersama Saddam dan orang tuanya untuk mempersiapkan dekorasi.

"Kiya, nanti kita jalan, yuk?" Zahra mengedipkan sebelah matanya.

"Mau!" teriak gembira Zakiyya. Ia mempercepat makannya dan memeluk Zahra. Zahra membalas pelukan adik kesayangannya.

"Kita pakai baju kembar gimana?" usul Zahra.

"Warna merah muda, ya, Kak? Biar kece." rayu Zakiyya.

Zahra mengangguk. "Iya, Kiya kesayangan Kakak."

"Hihi. Makasih, Kak," respon Zakiyya gembira.

Saddam dan ayah Zahra sedang menyusun dekorasi bersama para kuli. Ibu Zahra dan ibu Saddam sedang diskusi tentang kue pernikahan dan hadiah pernikahan. Ramai sekali orang berlalu-lalang di samping rumah Zahra.

Lailatul Qadar(END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang