35. Soal Rasa

132 32 81
                                        

"Ikhlas itu ketika kamu tahu bahwa sesuatu bukanlah untukmu, namun kau menerimanya dengan hati yang lapang."

Di lain hari, setelah Hannah memimpikan Zahra, Hannah kembali fokus kepada karirnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di lain hari, setelah Hannah memimpikan Zahra, Hannah kembali fokus kepada karirnya. Ia merasa ia tidak boleh memikirkan cinta untuk saat ini. Ia harus fokus untuk membangun masa depannya. 

Kini Laila sedang membeli es teh manis di sekitar taman kota. Laila baru saja selesai mengajar di pesantrennya. Karena merasa bosan, sembari menunggu jam pelajaran berikutnya, Laila berjalan-jalan sebentar.

"La!"

Laila menoleh ke arah asal suara.

"Fadil?" Laila mengangguk dan tersenyum sebagai tanda bahwa ia menyapa Fadil.

Fadil melambaikan tangannya dari kejauhan. Fadil memilih lebih baik ia menjaga jarak dari Laila sehingga tidak terjadi fitnah di antara mereka.

Fadil berniat menghampiri Laila, membicarakan tentang acara pentas seni anak-anak santri di pondok mereka, serta membahas tentang bagaimana kabar Hannah dan Aisyah. Sekadar basa-basi. Tetapi ia urungkan niat itu karena ia malu kepada Allah.

Ya Allah. Aku malu terhadap-Mu apabila aku membahasnya hanya berdua dengan Laila. Aku takut akan fitnah yang terjadi di antara kami kelak. Aku harus bagaimana? 

Fadil berpikir keras agar bisa mengobrol dengan Laila. Karena Fadil dipilih sebagai pelaksana acara di ponpes mereka.

Tiba-tiba Hasan menepuk pundaknya dan berkata, "Assalamu'alaikum!"

Fadil tersontak kaget, segera ia menoleh ke samping kanannya. "Astaghfirullah. Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Elu ngagetin gua mulu."

"Afwan, Dil. Soalnya gue pengen kasih lu sesuatu." Fadil mengernyitkan dahinya sementara Hasan mengacak-acak tas yang dibawanya. 

Hasan mengeluarkan map kecil dan mengeluarkan secarik undangan pada Fadil. Fadil kaget dibuatnya.

"Ini ...? Undangan nikahan?" tanya Fadil tertegun.

"Iya. Undangan pernikahan gua. Desainnya gimana? Bagus, gak?" Hasan menatap lamat-lamat undangan pernikahannya yang bertuliskan Hannah Annisa Nadhira & Muhammad Hasan.

Tak enak hati Fadil menerima undangan itu. Teringat ekspresi Fauzan yang menyedihkan membuatnya iba apabila ia dan Fauzan harus mendatangi pernikahan Hasan. Pernikahan seorang sahabat dengan seseorang yang dicintai oleh sahabatnya yang lain. Menyesakkan.

"Barakallahu lakuma 'alaikuma wa bainakuma fii khayr. Lu ngundang Fauzan juga, kan?"

"Syukran. Ya pasti, Dil. Dia sahabat kita. Dan, moga Saddam juga ngeliat gue berbahagia ketika acara berlangsung. Meski sudah beda alam, mereka yang tiada diperbolehkan melihat orang-orang tersayang yang masih hidup. Lu sendiri tahu, kan, kalau hal itu terjadi pada hari Jumat?"

Lailatul Qadar(END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang