Assalamualaikum semuanya gimana kabarnya hari ini? Udah pada absen belum nih?
Btw nungguin bunnes update nggak nih? Kalau ada yang tanya kenapa kalian suruh panggil bunnes? Bunnes jawab ya, jadi panggilan itu adalah panggilan yang sangat bunnes sayangi. Bunnes (Suka Batu es) kalau suka kamu itu dia🙃
Udahlah, dilarang promosi di area ini!!! Plagiat di harapkan menjauh ygy☺️☺️☺️
بسماللهالرحمنالرحيم
~SELAMAT MEMBACA~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Saat ini aku harus menjaga pandangan agar tidak melihat mu, sampai waktu itu tiba hingga kamu tidak akan bisa lepas dari tatapan mata ku. Ya Alzawjatalmustaqbalia."
~Alfarezel Rayant Jonathan~
Karya Diahsulia
~🌼~
"Baiklah, saya sebagai ayah angkat dari Syafa tidak merestui jika Syafa menolak lamaran nak Rayant." Jelas Arkham sembari menepuk pundak Rayant dengan bangganya.
"Alhamdulillah." Rayant mengucapkan syukur, ia luruh ke lantai dan bersujud mengucapkan syukur. Bagaimana tidak? Selama ini dirinya mencari jati diri, hingga di pertemukan dengan seorang perempuan yang mampu membuat nya berubah menjadi lebih baik. Bisa merubah menjadi seorang mualaf.
Aurora dan Jonathan pun tersenyum, mereka tidak tau harus berkata apa. Kebahagiaan yang terlihat di hadapannya saat ini membuat semuanya berubah, dan meningkatkan Jonathan kepada almh. Syifa.
"Terimakasih Om, terimakasih." Rayant mencium punggung tangan Arkham, dan di balas usapan kepala dari Arkham. Dirinya percaya bahwa Syafa bisa bahagia dengan lelaki ini. Bukan semata-mata karena Rayant adalah seorang mualaf, namun melihat keteguhan dan keberanian yang ada di dalam diri Rayant, Arkham bisa percaya bahwa Rayant bisa menjaga Syafa.
"Kalau begitu Tante panggil Syafa nya dulu ya." Di balas anggukan kecil dari Rayant, hati Rayant rasanya masih kurang percaya dengan keadaan saat ini. Ya, dirinya berhasil melamar orang yang selama ini ia dambakan, yang namanya selalu di langitkan.
Sepuluh menit berlalu, dari arah tangga terlihat seorang gadis dengan pakaian syar'i nya tengah berjalan dengan Aurora. Rayant yang melihat itu segera mengalihkan pandangannya.
"Sabar Rayant, jangan angkat kepala mu dan melihatnya. Tunggu sampai mulut mu mengucapkan ijab qobul dan menghalalkan nya." Rayant hanya mampu menundukkan kepalanya.
Aurora dan Syafa duduk di sofa, dengan Syafa yang masih menundukkan kepalanya. Ia tidak berani melihat ke arah kedua orang lelaki yang sedang di hadapannya itu. Setelah mendengar kabar bahwa ayahnya telah memberikan restu, membuat Syafa bimbang saat ini. Dengan perasaan yang lumayan kacau Syafa mencoba mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah lelaki yang tengah melamarnya itu.