PLAGIAT? Nggak liat apa, ini mata udah panda 🐼☺️ maaf ya, kalau mau plagiat jangan di karya bunnes 🙏
Jangan lupa tinggalkan jejak 💙
بسمالله الرحمن الرحيم
~SELAMAT MEMBACA~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jika kehilangan akan menimbulkan sebuah tetesan air mata, maka aku memilih untuk ikut pergi agar aku tidak merasakan sebuah kehilangan yang luar biasa."
✧༺♥༻✧
OPACRAPHILE
By Diahsulia
~🌼~
Aurora hampir lunglai ke lantai tatkala melihat Syafa terbujur tidak berdaya di brangkar, begitupun dengan Arkham. Abi dari Syafa yang kini sudah sampai di Jakarta setelah mendapatkan kabar jikalau Syafa kecelakaan, akhirnya bisa menemui putrinya. Jika pada biasanya rasa bahagia yang tidak bisa diucapkan karena terlalu bahagia, untuk kali ini berbeda. Arkhan justru di kagetkan dengan kondisi Syafa yang dimana seluruh tubuhnya tertutup oleh perban.
Di samping brangkar milik Syafa, terdapat Rayant dengan alat ventilator yang melekat di wajahnya untuk membantu pernafasan. Cantika dan dokter Aris saling pandang, Cantika terus menerus menarik nafasnya dalam-dalam. Ia menggeleng kecil melihat ke sekeliling Jonathan dengan tatapan sendu nya, tanpa aba-aba Cantika memeluk tubuh papahnya. Ia menumpahkan kesedihannya di pundak Jonathan, jika pada biasanya Cantika memeluk Rayant, saat ini kondisinya berbeda.
Jonathan menghapus jejak air mata di sudut matanya, ia menganggukkan kepalanya sembari mengusap puncak kepala Cantika dengan lembut. "Kita doa yang terbaik buat Abang, sama Syafa." Balas Jonathan, sejujurnya hati nya juga tidak tenang.
Aurora menatap sendu ke arah keduanya, dirinya luruh namun di tahan oleh Arkham. Sedangkan Arkhan melangkahkan kakinya mendekati putrinya yang tengah memejamkan matanya, dirinya melihat sendu ke arah Syafa. "Putri Abi pasti kuat." Bisik Arkhan tepat di telinga Syafa.
Semua orang keluar dari ruang ICU, Jonathan, Arkhan dan Arkham ke masjid untuk mendoakan Syafa dan Rayant. Sedangkan Aurora dan Cantika memilih menunggu di luar ruangan ICU, Cantika menggigit jari jemarinya menandakan dirinya tengah di landa kepanikan. Begitupun dengan Aurora.