Religi - Romance
"Dengan cara apapun, pacar kamu ngga akan bisa mengalahkan saya jika lauhul Mahfudz kamu itu saya! Saya akan membawa cinta ini sampai Jannah-Nya" - Zema Sa'ad Alamar
____________________________________
Nikah muda. Hal ini sudah me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.....
Selesai melaksanakan sholat subuh, kini Zira bersiap untuk berangkat kuliah. Jam sudah menunjukkan pukul 07.26 sedangkan kelas dimulai sekitar pukul 8, dan perjalanan dari pesantren ke kampus sekitar dua puluh menit.
"Assalamualaikum." Sapa Ning Disya memasuki kamar asrama Zira.
"Waalaikumsalam, ada apa Ning?" Tanya Zira.
"Mba Zira mau berangkat kuliah?"
"Iya." Jawab Zira
"Tadi, mba Zira di panggil sama Abah." Ujarnya memberi tahu maksud datangnya Disya kemari.
"Kyai Nadim? Ada apa?" Tanyanya bingung, mengapa Kyai-nya itu memanggilnya? Apakah ia membuat kesalahan? Tapi apa? Ia sama sekali tidak merasa melakukan sebuah kesalahan.
Tak berpikir terlalu lama, ia pun mengikuti Ning Disya menuju ndalem. Sedangkan Azizah dan Andina sudah terlebih dahulu menuju kampusnya masing-masing.
Saat sampai di ndalem, ia diarahkan untuk menuju ruang tengah. Tak mendapatkan Kyai Nadim berada di sana, ia malah bertemu dengan Gus Zem yang sedang sibuk membaca kitab.
Melihat kedatangan Zira itu, Zema segera menutup kitabnya. Ia berdiri dan menghampiri gadis itu, namun tetap dengan kepala yang ia tundukkan.
"Hari ini kamu kuliah?" Tanya Gus Zem. Zira yang merasa diajak bicara itu pun menoleh pada laki-laki itu.
"Eh i-iya." Jawabnya gugup, entah mengapa saat gadis itu berhadapan dengan Gus-nya ini menjadi salah tingkah.
"Saya antar, kebetulan saya juga mengajar di kampus itu." Perkataan Gus Zem membuat Zira terkejut, bagaimana ia harus berangkat dengan laki-laki itu?
Padahal ia berencana akan menuju rumah Ansel dulu, ya siapa tau gadis itu bisa membantunya kabur dari sini.
"Ga usah Gus, saya berangkat sendiri aja." Ujar Zira.
"Ada Ning Disya sama Ummah Anum juga ikut, jangan khawatir kalau kita hanya berdua. Saya juga ga mau, takut ketiganya setan!" Tapi yang dikhawatirkan Zira bukan itu Gus! Pikir gadis itu.
"Serius deh, Zira berangkat sendiri aja. Saya takut ngerepotin." Ujarnya lagi berusaha menolak ajakan laki-laki itu.
"Saya tidak merasa direpotkan." Ah! Susah sekali menolak ajakan Gus Zem.