Religi - Romance
"Dengan cara apapun, pacar kamu ngga akan bisa mengalahkan saya jika lauhul Mahfudz kamu itu saya! Saya akan membawa cinta ini sampai Jannah-Nya" - Zema Sa'ad Alamar
____________________________________
Nikah muda. Hal ini sudah me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.....
Gadis dengan gamis berwarna hitam itu berjalan cepat di lorong rumah sakit, sesekali ia mengusap air matanya yang menetes begitu saja.
Nafas Zira memburu, ia tak terkendali. Sedangkan Ibra berlari menyusul adiknya yang meninggalkannya begitu saja saat baru turun dari mobil.
Tadi Ibra menjemput Zira untuk memberinya kabar tentang keadaan sang ibu, Amira saat ini sedang kritis di rumah sakit. Selama bertahun-tahun Zira tidak mengetahui penyakit yang di derita ibunya, yaitu gagal ginjal kronis.
Bahkan saat sang Ibu membutuhkannya, ia tak ada di sampingnya. Betapa bodohnya, ia merasa gagal menjadi seorang anak yang baik untuk Amira.
"Ummi!" Panggil Zira, ia mengelus kaca yang memperlihatkan Amira tak berdaya di dalam sana.
Jantungnya berpacu sangat cepat, ia tidak tega melihat ibunya seperti ini. Ibra yang sudah berada di sampingnya itu segera memeluk sang adik, laki-laki itu juga terpukul tapi ia juga harus kuat untuk adiknya.
Hasan melihat kehadiran kedua anaknya, ia menghampiri. "Ibra, Zira!" Panggilnya.
Mereka menoleh ke arah sang ayah, Zira berlari ke pelukan Hasan. "Abah!" Zira terisak di dekapan sang ayah.
"Sstt...sudah jangan nangis, kalau Zira sedih nanti ummi juga ikutan sedih. Anak Abah harus kuat!" Ujarnya menenangkan.
"Ummi bakal baik-baik aja kan bah?" Tanyanya, Hasan mengangguk yakin. Ia tau sang istri kuat, selama bertahun-tahun juga Hasan setia menemani sang istri di masa sulitnya.
"Ummi bakal baik-baik aja, mas yakin itu!" Ujar Ibra. Laki-laki itu tak kuasa menahan air matanya, ia juga terpukul mendengar kabar sang ibu.
Amira yang berhasil menjadi ibu terbaik untuk mereka itu terbaring lemah di dalam sana, seharusnya Ibra lebih menjaga bidadarinya itu.
"Dengan keluarga ibu Amira?" Seorang dokter menghampiri mereka, seketika perhatian mereka alihkan pada dokter yang ber-nametag Gauri.
Dokter Gauri merupakan dokter yang merawat Amira selama bertahun-tahun, ia tahu pasti keadaan wanita itu yang sangat lemah.
"Iya dok? Bagaimana keadaan ibu saya?" Tanya Zira meraih tangan dokter itu, gadis itu menatap berharap pada Gauri untuk memberinya kabar baik.
"Saya tidak ingin memberi harapan lebih kepada kalian semua, tapi saya usahakan untuk kesehatan ibu Amira dengan baik." Bukan itu yang ingin Zira dengar, ia hanya ingin mendengar kabar sang ibu yang pasti akan membaik. Namun itu malah sebaliknya.