HC | 01

134K 5.3K 54
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

......

Seorang pria paruh baya berusia sekitar empat puluh tahunan duduk bersandar pada sofa ruang tamu, tangannya berada pada pinggiran sofa dan mengetuknya beberapa kali dengan jari telunjuknya.

Pria itu adalah Hasan Baihaqi, seorang ayah yang memiliki satu putri dan satu putra yang teramat ia sayangi. Raut wajahnya begitu serius menatap seorang gadis yang kini tengah menunduk di depannya, pria itu berdeham singkat mampu membuat gadis itu bergidik ngeri.

Gadis itu adalah Nazira Adiba Almaira, putri satu-satunya di keluarga. Ia baru saja pulang ke rumah setelah seharian ini keluar bersama pacarnya. Hasan melarang keras anaknya berpacaran sebelum menikah, namun kali ini peraturannya dilanggar oleh Zira.

"Berapa lama?" Hasan berkata dingin.

"Keluarnya?" Jawab Zira dengan pertanyaan, ia sedikit bingung dengan pertanyaan ayahnya.

Hasan menghela nafas, ia sudah lelah menghadapi anak perempuannya ini. "Pacarannya!" Tegas Hasan.

Zira menjawab takut-takut, mengapa harus ketahuan lagi oleh ayahnya? Padahal ia berusaha menyembunyikan hubungan ini dengan hati-hati.

"Sekitar enam bulan lalu?" Jawabnya sedikit ragu. Ia juga sudah lupa kapan ia balikan dengan Dika-pacarnya itu.

"Tau kamu salah?" 

"Maaf, Bah." Lirih Zira.

"Abah tanya sekali lagi, tau kamu salah?" Pria itu berdiri membuat kaki Zira berjalan mundur, kini ia ingin menangis. Memang Hasan tak pernah membentak, namun saat pria itu marah mampu membuat nyali sang anak menciut.

"Iya, Bah." Ucapnya sedikit terisak.

"Baik, selama sebulan ini. Kamu harus diantar dan dijemput oleh mas mu! Dan segera putuskan pacarmu itu!" Setelah itu Hasan melenggang pergi dari hadapan Zira.

Mendengar hal itu Zira mendongakkan kepalanya untuk protes, "Ga mau! Zira ga mau diantar mas Ibra!"

Langkah Hasan terhenti, pria itu kembali menghadap Zira. "Uang jajan kamu, Abah potong selama sebulan!"

Zira melotot mendengar perkataan sang ayah, bagaimana bisa Hasan menyiksanya seperti ini?

"Abah ga adil!" Rajuk Zira.

"Ga adil bagaimana? Kamu yang berbuat, kamu juga yang bertanggung jawab. Sudah Abah tekankan bahwa anak Abah tidak boleh berpacaran sebelum menikah! tapi kamu melanggar perintah Abah, ralat bukan perintah Abah tapi perintah Allah sendiri yang kamu abaikan." 

"Ummi!" Zira berlari kearah sang ibu yang baru saja keluar dari dapur dan masih memakai apron-nya.

"Abah ngga sayang sama Zira." Gadis itu menekuk bibirnya dan mengalungkan tangannya di lengan Amira Bahira-Ibu Zira.

"Ga sayang yo opo seh?" Wanita itu menatap sang putri dengan heran. (Tidak sayang gimana sih?)

"Lah iku, moso sangu e Zira di potong! terus Zira mangan opo?" (Lah itu, masa uang jajan Zira dipotong, terus Zira makan apa?)

HAMASAH CINTA (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang