Religi - Romance
"Dengan cara apapun, pacar kamu ngga akan bisa mengalahkan saya jika lauhul Mahfudz kamu itu saya! Saya akan membawa cinta ini sampai Jannah-Nya" - Zema Sa'ad Alamar
____________________________________
Nikah muda. Hal ini sudah me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.....
Zira melipat mukenah yang selesai ia gunakan untuk sholat dhuhur bersama Gus Zem barusan, laki-laki itu beranjak berdiri sambil melipat sajadah dan mengembalikannya ke tempat semula.
"Saya langsung balik ke asrama ya Gus." Ujar Zira selesai meletakkan mukenah ke tempat sebelumnya.
Zema mengangguk sebagai jawaban, lalu gadis itu membuka pintu kamar secara perlahan. Namun saat akan keluar, Zira kembali masuk dan menutup pintunya kembali.
"Kenapa masuk lagi?" Tanya Gus Zem menaikkan satu alisnya.
Gadis itu mengatur nafasnya, ia terkejut melihat kedatangan Sofia yang merupakan petugas keamanan di pesantren ini menuju ndalem.
Kemudian Gus Zem keluar kamar, mendapati Sofia tengah duduk di sofa ruang tamu ndalem. Laki-laki itu menghampirinya, karena di rumah tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan istrinya.
"Gus!" Panggil Sofia melihat kedatangan Gus Zem.
Laki-laki itu mendudukkan tubuhnya di seberang Sofia dengan menundukkan kepalanya, lalu ia berucap. "Ada apa?" Tanya Gus Zem.
Sofia menyunggingkan senyum, lalu ia meletakkan plastik yang dibawanya tadi.
"Saya bawakan Gus Zem roti maryam, kesukaan Gus." Ujarnya bermaksud memberi kresek berisi roti Maryam yang ia letakkan tadi.
"Kamu kesini hanya untuk ini?" Tanyanya dingin, Sofia mengangguk antusias.
Bisa dibilang Sofia menyukai Gus Zem sejak tiga tahun terakhir, dan untuk pertama kalinya gadis itu memberanikan diri bertemu langsung secara berduaan seperti ini.
Zira mengintip dibalik pintu kamar, ia juga melihat Sofia begitu senang bertemu dengan suaminya itu. Entah mengapa hatinya sedikit memanas melihat interaksi keduanya.
"Bawa kembali! Saya sudah tidak suka dengan makanan itu!" Ujar Gus Zem ketus, membuat Sofia yang awalnya menyunggingkan senyum itu seketika menatap laki-laki di depannya ini kecewa.
"Loh Gus Zem sudah ga suka ya? Aduh...maaf saya gak tau, lain kali saya bawakan yang lain saja kalau gitu." Ujar Sofia.
"Itu kasih ke ummah saja Gus, daripada ga ada yang makan." Lanjutnya dengan masih menatap kembali Gus Zem dengan perasaan senang.
"Kalau sudah ga ada kepentingan, silahkan pergi!" Perintah Gus Zem setelahnya ia berdiri.
"Dan jangan lakukan hal ini lagi, saya tidak suka kamu memberi saya makanan seperti ini." Ujarnya lalu meninggalkan Sofia yang termenung.
Laki-laki itu berjalan ke arah kamar, Zira yang tadinya mengintip itu buru-buru menutup kembali pintunya dan berjalan ke arah ranjang.
Saat pintu terbuka, gadis itu menoleh ke arah suaminya yang terlihat marah. "Gus?" Zira menaikkan satu alisnya bertanya.
Gus Zem menghembuskan nafasnya, sebenarnya ia tahu maksud Sofia memberinya makanan tadi. Dan laki-laki itu juga berbohong tentang dirinya sudah tidak menyukai roti maryam lagi, padahal ia sangat menyukainya sampai kapan pun.
"Ada apa?" Zira mendekat ke arah suaminya, lalu memegang bahu laki-laki itu.
Tiba-tiba saja Gus Zem memeluk dirinya, Zira yang terkejut itu mematung dan membulatkan matanya terkejut.
"Saya hanya ingin meredakan emosi sebentar." Ujarnya, lalu Zira membiarkan suaminya memeluk dirinya namun ia tak membalas pelukannya.
Jantungnya terasa berdetak lebih kencang, entah perasaan apa yang dirasakan gadis itu.
🌙
Kembali dari ndalem, Zira akan menuju ke asramanya. Hingga suara teriakan menghentikan langkahnya. "ZIRA!"
Gadis itu menoleh ke belakang, ia mendapati ustadzah Rima berjalan ke arahnya dengan marah.
"Saya tadi nyuruh kamu berdiri di tengah lapangan, lalu kemana kamu tadi?" Tanyanya.
Zira baru ingat kalau dia masih ada hukuman, karena tadi ia merasa tidak kuat lalu pingsan dan dibawa Gus Zem ke ndalem jadi gadis itu belum memberitahu apa yang terjadi saat itu pada ustadzah Rima.
"Maaf ustadzah, tadi saya sudah menjalankan hukumannya. Karena saya terlalu lelah akhirnya pingsan, untung saja ada Gus Zem yang nolongin saya." Jelas Zira.
Ustadzah Rima hanya menatap datar saat mendengarkan penjelasan Zira. "Alasan kamu aja! Kalau kamu pingsan terus ditolong sama Gus Zem, lalu Gus Zem gendong kamu gitu?"
Zira mengangguk, namun ustadzah Rima malah tertawa.
"Onok-Onok wae! Ga mungkin Gus Zem gendong kamu. Beliau itu sangat menjaga dirinya dengan wanita yang bukan mahramnya!" Ujar ustadzah.
"Tapi kan.." belum selesai menjawab, perkataan Zira disela oleh ustadzah Rima.
"Ga ada alasan, kamu saya tambah hukumannya. Sekarang kamu tetap berdiri di tengah lapangan, hafalkan sepuluh hadist. Kalau sudah hafal setor ke saya! Jika belum hafal kamu tidak boleh beranjak dari sana!" Setelah itu ustadzah meninggalkan Zira yang hampir menganga tak percaya.
"Dasar wong edan! Di kira aku orang sakti gitu? Bisa hafalin sepuluh hadis dalam waktu yang bahkan kurang dari sehari." Dumel Zira.
Namun tiba-tiba tetesan demi tetesan jatuh membasahi bumi, Zira yang tadinya marah-marah itu seketika melihat langit yang hampir gelap menutupi awan-awan putih.
Lalu bagaimana dengan hukumannya? Dengan terpaksa Zira melangkah ke tengah lapangan, ia berpikir daripada tidak dilaksanakan akan bertambah lagi hukumannya nanti.
Dengar air hujan yang terus membasahi tubuhnya, Zira berusaha tetap tegar. Ia sama sekali tidak ingin beranjak dari tengah lapangan, sampai adzan magrib pun telah berkumandang.
Azizah maupun Andina yang akan menuju masjid menggunakan payung itu, melihat Zira yang sudah basah kuyup. Alangkah terkejutnya mereka melihat itu, dan mereka segera menghampiri Zira.
"ZIRA!" Panggil keduanya, gadis itu tengah memeluk tubuhnya sendiri karena merasa kedinginan.
"Azizah, Andina?" Kejut Zira melihat kedatangan teman asramanya itu.
"A-aku dihukum sama ustadzah Rima, daripada ga dilaksanain nanti aku malah dapet hukuman tambahan lagi." Jawab Zira dengan bibir yang bergetar karena kedinginan.
"Wes ayo ke asrama, kamu sudah basah kuyup gini! Nanti sakit loh." Suruh Azizah.
"Udah gapapa, biar nanti aku yang bilang. Kalau lagi hujan gini, hukumannya bisa diganti dihari lain." Jelas Azizah.
"Iya Zir, mending sekarang ke asrama, kamu ganti baju. Terus kita sholat Maghrib bareng." Timpal Andina.
Zira mengangguk, kemudian mereka membawa gadis itu ke dalam asramanya. Sesampainya dikamar, Zira menggigil. Dirinya merasa kedinginan karena terlalu lama berada dibawah air hujan.
"Cepet ganti dulu, nanti masuk angin!" Suruh Azizah. Zira menuju lemarinya dan mengambil beberapa baju ganti, setelahnya ia masuk ke ruang ganti.
"Kita sholat jamaah disini aja." Ujar Azizah saat melihat Zira selesai mengganti pakaiannya.
Lalu gadis itu mengambil mukenah-nya kemudian memakainya, mereka melaksanakan sholat Magrib dengan khusyuk. Dan Azizah sebagai imamnya.