GO!
Bel pulang berbunyi.
Aku segera merapikan buku-buku di meja, sebelum Alex sempat menanyakan banyak hal ke diriku.
"Rina! Rina!"
Benar saja. Alex berteriak memanggilku dari kejauhan — memalukan, semua orang jadi memandangiku sekaligus.
Aku tetap berlari maju, melewati banyak siswa-siswi yang berjalan lambat. Menuruni tangga secepat kilat, handphone aku genggam erat. Layarnya menampilkan satu pesan masuk:
'Ayah sudah di depan.'
Aku pulang dijemput ayah dengan mobilnya. Aku tahu Alex masih mencariku — aku sempat menoleh — tapi aku tetap kabur. Naik ke mobil, lalu pergi.
Haah... haah...
Aku terengah di dalam mobil.
"Kamu kenapa, Rin? Kayak dikejar zombie aja." Tawa ayah.
Aku menyisir rambutku ke belakang, lalu menguncirnya. "Iya, Yah." Jawabku singkat. "Untung ayah cepat menjemput. Kalau nggak, aku sudah mati dimakan zombie." Keluhku sambil menggigit roti yang kuambil dari jok belakang. "Eemm, rotinya enak. Ayah beli di mana?"
"Dekat apartment teman ayah. Ayah sering ke sana buat meeting, kebetulan tadi lewat — inget kalian di rumah. Jadi mampir deh."
Singkat cerita, kami banyak mengobrol di mobil. Macet di jalan pun tidak terasa bagi kami berdua, sampai akhirnya tiba di rumah.
---
"Kakakkkkk."
Iko berlari ke arahku, berteriak sekencang-kencangnya, lalu memeluk perutku — karena dia memang terlalu pendek untuk memeluk bagian lain.
"Iko, ayo masuk." Keluhku. Baru datang sudah digelendotin si bocil.
Kami masuk ke dalam rumah. Aku langsung menuju kamar, dan Iko tentu saja mengikuti.
"Kakak, kakak tau nggak sih?" Iko mulai mengoceh.
"Tutup dulu pintunya." Aku menunjuk pintu kamar.
"Oke." Iko berlari menutup pintu, lalu kembali ke sisiku yang sedang menaruh tas dan buku-buku pelajaran ke meja.
"Aku tadi ketemu kak Siu."
Aku terdiam. Orang itu lagi. Seketika aku menoleh, memperhatikan adikku.
"Main apa? Kamu kan sekolah tadi." Aku mengerutkan kening.
"Eh, nggak main deh." Iko menggeleng.
"Ih, Iko nggak jelas."
"Tapi dia dateng ke sekolah aku, Kak."
Brak. Aku melempar seragam ke keranjang baju kotor di depan kamar mandi, sambil menoleh kaget ke Iko.
"Gimana maksudnya? Ke sekolah kamu?"
Aku nggak salah dengar, kan?
Iko mengangguk ceria. Tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya saat menyebut orang itu.
"Jadi kak Siu dateng pas jam istirahat." Iko bercerita sambil terus mengikutiku ke depan kamar mandi. "Kak Siu ngajak aku jajan keluar, Kak."
Aku sibuk mencuci kaki, tangan, dan muka. "Terus, kamu mau?" Sedikit kasar aku menggosok wajahku.
"Nggak kok." Iko menggeleng. "Aku bilang gini — aku bawa bekal, ibu guru juga nggak bolehin muridnya keluar sekolah pas istirahat. Kalo lapar bisa beli di kantin. Aku bilang begitu ke kak Siu."
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
