GO!
Jam istirahat.
Jauh dari keramaian anak-anak Excellent, lapangan tengah Libii Academy terasa seperti dunia lain. Rumput sintetisnya terhampar tenang, angin berembus ramah, dan rambut mereka berkibar-kibar halus tanpa diminta.
Messa, Yume, dan Cadby duduk di tribun. Diam. Topik pembicaraan sudah habis sejak tadi, dan yang tersisa hanya suara angin dan langit siang yang terik.
Sampai Yume menoleh ke lapangan.
"Kak Egan!"
Cadby dan Messa hampir bersamaan menoleh. Di kejauhan, sesosok laki-laki berhoodie hitam berlari mendekat. Badannya tegap, langkahnya cepat — dan wajahnya, dari jauh sekalipun, terlihat cerah. Berbeda dari biasanya.
"Akhirnyaaa dateng juga!" Cadby berdiri, men-tracing tubuhnya sendiri karena terlalu lama duduk.
Tapi —
"Kok berhenti?" Messa mengerutkan dahi.
Di tengah lapangan, Egan tiba-tiba berhenti. Diam. Matanya turun ke rumput sintetis di bawah kakinya, seperti melihat sesuatu yang tidak ada di sana.
Yume menyipitkan mata, kacamata besarnya seolah tidak cukup membantu. "Ngapain Kak Egan malah bengong?"
"Kita udah tungguin daritadi juga," protes Messa.
Tapi Cadby sudah turun dari tribun lebih dulu, melangkah cepat ke arah Egan tanpa menunggu.
"Lho! Dia udah ke sana!" Yume menunjuk.
"Cadbyyyy." Messa mendecak, lalu ikut turun.
---
Cadby menepuk pundak Egan pelan. "Egan, lo nggapapa?"
Egan menoleh. Tatapannya sejenak kosong sebelum akhirnya kembali fokus. "Nggapapa. Nggak usah dipikirin." Ia melangkah maju. "Yuk balik ke tribun, ada banyak yang mau gue bahas."
"Yuk, By." Tangannya menepuk bahu Cadby yang masih terdiam.
Mereka kembali ke tribun. Duduk. Egan meletakkan tas selempang hitamnya di kursi, ritsleting dibuka perlahan. Tatapannya sudah serius.
Tapi Cadby lebih dulu membuka mulut.
"Muka lo mulus banget, Gan." Cadby mengerutkan dahi, serius. "Pake skincare apaan?"
Egan menganga.
Yume dan Messa menoleh dengan ekspresi yang sama — alis bertemu di tengah, rahang hampir jatuh.
Tapi Cadby masih lanjut, berbicara pada dirinya sendiri. "Apa karena di luar ya? Jauh dari gedung, jadi nggak ada bayangan di wajah lo? Makanya lo bening banget."
Antara pujian atau pengalihan, tidak jelas.
"Lo serius mau dengerin kita nggak sih?" Messa mulai sinis.
Glek. Cadby menelan ludah. "Mau kok, mauuu — tapi yakin nggak bahaya cerita di sini?"
Yume, Messa, dan Egan saling bertatapan.
"Lapangan ini jarang dipakai kecuali acara besar." Messa mendengus. "Udah berkali-kali gue bilang."
"Tenang, By." Egan menghela napas sabar. "Anak-anak Excellent juga males ke sini. Jangkauannya terlalu jauh — harus lewatin gedung-gedung lain, belum lagi kantin reguler."
Cadby mengangguk pelan. "Oke. Masuk akal."
---
"Oke." Egan mulai mengeluarkan isi tasnya satu per satu. Buku diary lusuh. Lembar-lembar kertas print. Dan dua botol kecil yang cahayanya redup di bawah terik matahari — satu hitam pekat, satu merah gelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasi• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
