The LXVII : Dalam Kotak Bayangan

17 3 1
                                        


GO!

"Iya Ma, temen sebangku Ella bakal pindah sekolah."

"Oh, ya. Kenapa?" Mama menoleh dari laptop di pahanya — tangannya masih memegang pulpen, setengah selesai menulis sesuatu.

"Banyak hal, Ma. Dan tadi polisi datang lagi ke sekolah — buat liat kondisi kerusakan gara-gara gempa kemarin." Aku menarik napas sebentar. "Serius lho, Ma. Mereka memang mau tahu kondisi sekolah dan... menyelidiki kejanggalannya."

"Kamu mau pindah juga nggak?"

Aku terdiam. Menatap Mama yang sudah kembali menatap layar laptopnya.

"Ah, nggak deh Ma." Aku menggeleng pelan. "Ella seneng kok sekolah di sini." Senyumku.

Mama menoleh, lalu tersenyum balik. "Gimana pelajarannya, aman?"

Aku terdiam sejenak.

Aman. Ya — sebagian.

"Iya Ma, aman kok." Anggukku. "Ella ke kamar ya, Ma."

Aku bercerita banyak ke Mama sore itu — meski tidak semuanya. Tidak pernah semuanya. Setelah itu, aku berlari ke atas.

---

Di kamar, aku langsung melempar tas ke kasur dan berganti piyama.

Seharian di sekolah — ilmu yang aku dapat tidak lebih dari sepotong keju kecil untuk para semut. Sisanya? Berpetualang bersama Alex dan bermain dengan Dey.

"Haahh." Aku merebahkan badan di kasur besar, menghela napas sepanjang-panjangnya. Kakiku masih tergelantung di tepi.

Mataku terpejam.

Dey.

Ya, sedih. Aku manyun sendiri membayangkan kursi kosong di sebelahku besok. Sendirian.

Di tengah lamunan itu — sesuatu menghantam hidungku.

Bau busuk. Tajam. Menyeruak begitu saja.

"Em— bau apa nih." Aku menutup hidung, lamunanku buyar seketika.

Pandanganku menyapu kamar.

Dan berhenti di sudut dekat meja belajar putihku.

Kotak itu.

Masih di sana. Masih dengan pita emas berglitter yang sudah mulai melengkung di ujung-ujungnya. Masih belum dibuka — persis seperti yang aku tinggalkan berbulan-bulan lalu. Atau mungkin lebih. Aku bahkan sudah tidak ingat menghitungnya.

Aku turun dari kasur.

Langkahku terasa lebih berat dari biasanya saat aku menghampiri meja itu.

Tanganku ragu di atas tutup kotaknya.

Oh, tidak.

Rina yang memberikan ini. Rina yang tersenyum malu waktu menyodorkannya lewat ibunya — bilang buka nanti ya, jangan sekarang. Dan aku, yang waktu itu terlalu banyak menyesuaikan diri, banyak yang aku pikirkan di kepala — hanya mengangguk. Lalu menyimpannya begitu saja.

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang