The LXVI : Gadis Kecil Itu

19 3 1
                                        


GO!

Rumah mewah itu menyambut dengan diam.

Tidak ada suara. Tidak ada langkah kaki yang terburu-buru. Tidak ada siapa pun yang menunggu di balik pintu dengan tangan terentang.

Hanya lampu-lampu teras yang menyala lembut — menerangi tiang-tiang putih tinggi yang berdiri angkuh di depan bangunan besar itu, seolah sedang menjaga sesuatu yang tidak perlu dijaga.

Aku turun dari mobil matic Medra, menutup pintunya pelan.

"Hati-hati ya, Med." Aku melambaikan tangan — ceria, ringan, seperti biasa.

"Ya, Ly! Langsung tidur aja ya!" Teriak Medra sambil mengklakson mobilnya sekali pelan.

Aku menjawab dengan senyuman.

Sampai mobilnya menghilang di tikungan.

Senyumku pudar.

Aku berbalik — menghadapkan diri ke rumah putih besar itu. Menatapnya dari bawah ke atas, dari tiang ke atap, dari cahaya ke bayangan.

"Rumah ini lagi."

Langkahku berat. Sepatuku menyeret di aspal, berbunyi gesekan kecil yang tidak ada yang mendengarnya selain aku. Sesampai di teras, kakiku menghentak-hentak lantai — bukan karena marah pada siapa pun, tapi karena diam-diam tubuhku selalu melakukan itu setiap kali pulang ke sini.

Seperti protes kecil yang tidak pernah didengar.

---

Sesampai di foyer depan, pembantu rumah tanggaku sudah berdiri menunggu. Wajahnya lega begitu melihatku masuk.

"Non, akhirnya pulang." Nadanya khawatir — terlalu khawatir untuk ukuran seseorang yang bukan siapa-siapaku secara resmi. "Sini tasnya, Bibi bawain."

"Nggak usah, Bi." Aku menahan tasku. "Bisa sendiri."

"Kamu abis kemana saja, Non?" Bibi mengikutiku, langkahnya kecil-kecil mengikuti langkahku yang lebih panjang. "Tuan dan Nyonya nyariin kamu."

Aku berhenti.

Menoleh pelan — rambut bergelombangku terkibas ke belakang.

"Sejak kapan mereka ingetku, Bi?" Suaraku turun satu nada. "Ha?! Sejak kapan?!" Aku melotot, tapi bukan ke Bibi — lebih ke ruangan kosong besar di depanku. "Bibi yang khawatir denganku. Bukan mereka."

Bibi menunduk.

"Liat aja sekarang." Aku menatap ruang keluarga yang luas, megah, dan sepi. "Mana mereka?"

"Nggak pulang, Non..." Suara Bibi mengecil.

"Tuh, kan." Aku mendengus. "Udah jelas siapa yang beneran khawatir samaku."

"I-iya, Non... maafkan Bibi. Bibi yang takut kamu kenapa-napa." Kepalanya semakin menunduk.

Ruangan itu sunyi sebentar.

Aku melepaskan napas panjang — perlahan, seperti membuang sesuatu yang sudah terlalu lama kutahan.

Lalu aku menoleh ke arah meja makan.

"Bibi udah makan?"

Bibi menggeleng.

"Kenapa?" Dahiku mengerut. "Nungguin aku pulang?" Aku menatapnya — benar-benar menatapnya. "Buat apa, Bi? Kalo Bibi sakit, siapa yang khawatirinku?"

Aku melangkah ke arah meja makan, suaraku naik lagi — bukan karena marah pada Bibi, tapi karena pertanyaan itu sebenarnya bukan untuk Bibi.

"Siapa yang masakinku? Siapa yang nanyain kabarku?" Kakiku menghentak pelan di ubin. "Siapa yang bakal temeninku? Siapa yang urus aku pas sakit? Siapa yang nyuruhku belajar?!"

PCS: True TotsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang