GO!
Kertas vintage kecil itu aku remas dalam genggaman. Perlahan, tanganku naik — mengelap sudut mataku sebelum ada yang sempat melihat.
"Sial, kenapa aku?" Aku berdecik sambil mengantongi ramuan golden ke celanaku.
Lagipula, ramuan ini milik Ken. Bukan milikku. Tidak seharusnya ada di tanganku — apalagi sampai membuatku seperti ini.
Grak. Pintu ruang OSIS terbuka kasar — tapi aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk.
"Dari mana aja lo?" Prang. Aku menutup pintu loker dan menghampiri Ken dengan gaya tenang. "Pak Yuan gimana sekarang?" Tanyaku cepat, berbicara di sampingnya.
Ken berbalik mengikuti gerakanku menuju pintu ruang OSIS.
"Sorry, gue abis ketemu Egan." Jawab Ken. Pelipisnya berkeringat, dan pandangan matanya terlihat sedikit goyah. Tapi ada sesuatu di balik tatapannya yang tidak seperti biasanya - sesuatu yang bahkan Ken sendiri seperti belum selesai memprosesnya.
"Ngapain lo di sini? Katanya di UKS tadi — cape-capein gue aja lo." Dengus Ken terengah.
Aku berhenti melangkah. Menengok ke Ken, lalu tanganku mengambil ramuan golden dari saku celanaku. Memperlihatkannya ke Ken.
"Kau mencarinya." Kataku singkat, lalu memberikannya ke Ken.
"Jo..." Matanya membulat, tersenyum senang, dan tertawa lepas, lalu merangkulku kasar. "Lo emang yang terbaik, hahaha." Tawanya renyah.
Dahiku mengerut tipis — satu-satunya retak kecil yang kuizinkan muncul di permukaan. Selebihnya, wajahku tetap tenang. Seperti biasa. Seperti seharusnya. "Gue juga nggak tau kenapa ramuan itu malah taruh di loker gue. Apa maksud dia beri ini ke gue?"
Ken menatap ramuan golden di tangannya. Lalu tersenyum miring.
"Satu doang, nih?" Tanyanya santai.
"Iya, cuma itu di loker gue. Sisanya gue nggak tau Egan kemanain." Aku mengangguk pelan.
"Chelsea." Tiba-tiba Ken menyebut nama perempuan itu lagi sambil memutar-mutarkan botol ramuannya.
"Omong-omong soal Chelsea. Kita belum mencari identitas pacarnya."
"Benar!" Ken langsung menghadapkan dirinya ke aku, nada semangat. "Egan itu siapa? Jujur gue juga nggak inget sama tuh anak — ditambah lagi dia bilang dia punya pacar di sini." Rasa lelahnya seolah menguap begitu saja — padahal keringat di dahinya belum juga kering, bajunya masih menempel lepek di punggung.
"Nanti deh. Gue ke admin, cari berkas si Egan-Egan itu."
"Iyep, gue tunggu ya. Info selanjutnya."
Aku mengangguk pelan.
Setelah itu kami diam.
Dan Ken kembali berbicara. "Lo ngapain nyuruh gue nemuin lo lagi?" Konyolnya — Ken belum tahu apa yang harus dia lakukan. Atau memang sengaja memastikan tujuannya.
Aku tertawa remeh.
"Sembuhin Pak Yuan lah." Tegasku melangkah maju.
"Lho, kan udah." Jawabnya — antara sengaja pura-pura tidak tahu, atau memang sinyal otaknya yang tiba-tiba lola.
"Hilangin ingatannya, Ken." Dengusku menahan emosi.
Seketika mata Ken membesar. "Ooohhh, iya juga ya." Nadanya sengaja dipanjangkan. Lalu langsung menepuk pundakku. "Nih, ramuannya." Ia menyodorkan ramuan golden yang tadi kuserahkan karena miliknya.
"Lho?" Aku menjauh. "Kenapa balik ke gue?" Kagetku, mengayun-ayunkan tangan menolak.
Namun Ken memaksa, tetap meraih tanganku untuk menerimanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
