GO!
Suara gesekan sepatu dan rumput sintetis menyatu, terik matahari seperti menyoroti kami yang berjalan. Messa dan Yume jalan lebih dulu.
Aku melirik ke Egan, lalu simbol lapangan tengah yang mulai mendekat. Aku menelan ludah. Bahkan botol ramuan biruku menyala saat semakin mendekat. Aku genggam lebih keras.
Dan ya, kakiku kini menginjak simbol itu, begitu juga Egan. Aku langsung menoleh ke Egan - tapi Egan tenang, meski ada satu hal yang baru saja aku lihat. Tangannya menyentuh badan tas hitamnya, seolah memastikan sesuatu masih ada di sana.
Aku tidak salah lihat. Dan Egan tidak berbicara apa pun soal simbol ini.
Kakiku berhenti tepat di tengah simbol.
Egan yang berjalan beberapa langkah lebih dulu dariku, akhirnya ikut berhenti. Ia menoleh ke rumput, lalu ke aku.
"Gue mau ngomong sama lo."
Langsung aku tarik tangannya, menjauh dari lapangan dulu.
"Kalian mau ke mana?" teriak Yume yang melihat kami menuju toilet kecil di pojok lapangan.
"Kebelet!" teriakku.
Messa menganga. "Dih, harus banget berdua?"
"Hahaha." Yume tertawa. "Toilet di lapangan ini emang jarang dipakai, Sa. Jadi Cadby takut kali kalau sendirian." Cengirnya.
---
Di toilet, meski jarang dipakai, toiletnya tetap bersih. Tidak ada bau yang tersisa di dalam.
Egan menatapku - lebih ke bingung - sebelum pertanyaan sempat keluar dari mulutnya. Aku sudah lebih dulu mengeluarkan ramuan biru milikku.
Tanpa pikir panjang, pertanyaanku langsung meluncur.
"Lo liat simbol, kan?" Cahaya biru ramuanku meredup. "Ramuan kita nyala. Gue liat lo nutupin cahayanya pake tangan lo." Aku terlalu yakin untuk ragu.
Egan membuka kupluk hoodie-nya, membuka tas, dan mengambil ramuan hitamnya. Lalu mengangguk pelan. Ada sedikit kelegaan yang lepas dari dadaku.
Di telapak tangan Egan, ramuan hitam yang tinggal setengah itu gelap tak bercahaya.
"Gue juga minum ramuan ini, By." Kata Egan, nadanya pasrah.
Aku diam sedetik. Menghela napas berat. Kaget - cukup kaget, bukan terlalu, tapi lumayan. Entahlah, intinya begitu.
"Kok... bisa? Emang ini buat diminum?"
Egan menggeleng. "Gue juga nggak tau sebenernya. Ini diminum, dituang, atau diapain. Intinya, gue minum ini karena hampir mati, By." Ia meluruskan pandangannya ke aku.
"Hampir mati gimana?!" Panikku.
"Sorry kalau gue lama tadi nyamperin kalian. Karena pertemuan gue sama Ken, cukup fatal. Gue dihabisin sama dia - bonyok, ditonjok di beberapa bagian lemah." Egan menunduk, memperlihatkan perut kirinya. "Bener, semua luka sekarang udah hilang. Tapi waktu itu gue hampir kehabisan napas, kehilangan pendengaran, bahkan bangkit pun nggak bisa. Nggak tau kenapa, kayak ada sinyal yang manggil gue. Gue rogoh tas, dan ramuan hitam ini nyala - seolah dia ngomong sesuatu ke gue. Abis itu gue minum." Ceritanya panjang.
Aku melongo, wajahku tidak terkondisikan. "Rasanya kayak apa?"
"Pahit. Pahit banget, dan sakit. Sakit banget." Katanya sambil merinding sendiri.
"Kok sakit?"
"Iya, pas masuk tenggorokan. Cairannya kayak paku-paku kecil masuk ke kerongkongan, dan gue kira gue bakal mati. Karena abis minum ini gue nggak sadar diri. Tiba-tiba aja, gue bangun dan langsung jalan, terus masuk ke gedung utama. Rasanya kayak mimpi, pokoknya." Egan berusaha mengingat.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasia• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
