GO!
Dua mobil hitam tanpa sirene terparkir di bawah. Pak Yuan masuk ke dalam salah satunya sambil melemparkan hormat dua jari ke arah Jo dan Ken di atas.
Jo dan Ken diam - sampai ada kata.
"Sial, sejak kapan dia sadar?" Ken mengerutkan dahi.
Jo menoleh, lalu berbalik badan. "Tidak peduli. Intinya ini kesalahan gue - gue harus ke Yayasan lebih dulu sebelum berita tentang sekolah menyebar dari pihak polisi." Aura dinginnya memancar. Langkah kakinya panjang, lurus, tegas. Hentakan sepatunya menggema di lantai UKS yang sunyi.
Tidak lama, bel masuk berdering keras. Jam istirahat usai.
"Gue ke kelas ya." Ken memisahkan diri begitu mereka keluar dari pintu UKS.
Jo mengangguk tegas. "ERLANDO!"
Tidak lama, Erlando muncul dari arah kantin - berlari dengan mulut penuh makanan, tangan kiri memegang tablet, tangan kanan es jeruk. Satu paket keribetan berjalan.
"Buatkan saya jadwal meeting bersama Yayasan. Izin ke guru kelas - hari ini kamu tidak masuk karena ada panggilan mendadak dari saya. Sekarang bereskan barangmu di kelas, saya akan hubungi supir. Kita pulang sekarang."
Perintah yang tidak bisa dibantah.
Jo melangkah pergi - meninggalkan lorong UKS, meninggalkan jendela yang tadi terbuka lebar, meninggalkan semua yang tidak bisa lagi ia kendalikan hari ini.
Ia hanya ingin Libii Academy hancur karenanya. Bukan orang lain.
---
Sepulang sekolah
Di suatu sudut rumah - layaknya dimensi berbeda dari keramaian hari ini - seorang lelaki berbadan kurus, rambut pendek hitam, dan hidung mancung duduk tenang di depan meja ilmiahnya.
Alex.
Dengan hati-hati, ia menaruh batu-batu kerikil warna-warni yang dibungkus tisu satu per satu di atas meja. Tangannya bergerak teliti, seperti seorang ilmuwan yang tahu betul apa yang sedang ia hadapi.
"Bukannya ini batu biasa, ya?" gumamnya.
Ia mengambil salah satu batu kerikil berwarna kuning - yang dari luar terlihat paling tidak istimewa - lalu meletakkannya di bawah kaca pembesar alat ciptaannya sendiri. Alat yang dirancang khusus untuk mendeteksi kandungan sebuah benda.
Matanya menyipit.
Glek.
Alex memundurkan badannya perlahan. Terdiam. Lalu, dengan gerakan yang jauh lebih hati-hati dari sebelumnya, ia mengangkat batu kuning itu hingga terkena cahaya langsung dari lampu ruangannya.
Matanya beralih ke deretan figuran mainan di rak mejanya - Boboiboy dan kawan-kawan, berbaris rapi dalam pose pertarungan masing-masing.
Senyum lebar terbentuk di wajahnya.
"Aku tau kenapa ini disembunyikan."
---
Di tempat lain - rumah Rina
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu kamar berbunyi pelan.
Rina menoleh dari layar televisinya, lalu mematikannya. "Ya? Masuk, Iko."
Kriett. Pintu kamar terbuka perlahan.
"Iko...?"
Mata Rina melotot. Badannya menegang.
KAMU SEDANG MEMBACA
PCS: True Tots
Fantasy• Tayang setiap hari Sabtu atau Minggu • PAHLAWAN CILIK SEJATI by Raisha Arsene --- Rumah besar itu hitam legam. Dan Ella baru saja memanggilnya rumah. Ella - anak perempuan yang hidupnya penuh imajinasi - tidak pernah menyangka kepindahan keluargan...
