#16 Gelisah Melanda

16 2 0
                                        

*Tafsir Cinta*

*

*

Muka bantal yang tercetak jelas, serta mata panda yang terlukis di parasnya. Tidak bisa hilang walauAatifa sudah mandi, pakai make up tebal pun tidak bisa menutupinya. Andai diperbolehkan memakai penutup muka, mungkin Atifa sudah melakukannya. Tapi sejelek apapun tampilannya sama sekali tidak bisa merusak citranya di hadapan para laki-laki, hingga Atifa sama sekali tidak terbebani soal penampilan.

Wajah cantiknya tetap bersinar walau di tempat redup sekali pun, berbicara tentang sinar. Kenapa sinar matahari sangat menyilaukan sekali hari ini, katup matanya sulit menyesuaikan keadaan hari ini karena matanya yang sulit menutup. Tidak bisa tidur pulas semalaman membuat manik matanya kuat terbuka lebar, mata bulat Atifa semakin bulat bukannya mengecil.

Atifa sedang berdiri di depan rumahnya, menunggu seseorang yang akan mengantarkannya ke kampus. Sesuai perjanjian, bahkan setelah menikah Atifa diijinkan tetap melanjutkan kuliahnya. Sebab sang calon suami pun sedang berkuliah dan juga keluarganya memang memiliki pendidikan yang tinggi.

"Atifa," seseorang menyadarkan Atifa dari lamunan.

"Mamah udah mau berangkat?" tanya Atifa. Kedua orang tua serta adik Atifa, hendak berkunjung ke rumah orang tuanya ingin memberitahukan kabar bahagia ini.

"Iya, Farhan belum datang?" tanya mama.

"Belum mah."

"Ya ampun, coba telpon dia. Nanti kamu bisa telat lho," perintah mamah.

"Gak perlu mah, paling sedikit lagi juga sampe," Atifa berusaha meyakinkan mamahnya.

"Yasudah, mama berangkat dulu ya," pamit mamah.

"Iya, hati-hati mah."

Mobil yang membawa keluarga Atifa, pergi meninggalkan Atifa yang mematung akibat detak jantung yang hampir berhenti. Pasalnya Atifa dan Farhan sampai saat ini belum bertukar nomor telepon, siapapun yang mendengar ini pasti berdecak heran dengan hubungan kami yang sangat unik.

Tidak lama mobil yang Atifa tunggu tiba, berhenti tepat di depannya yang saat ini sedang berdiri. Seseorang keluar dari dalam mobil dan sepertinya ia menyetir seorang diri, tapi tunggu ada yang berbeda dengan dirinya. Pakaian casual yang elegan kenapa bisa berubah dengan penampilan yang sangat nyentrik. Pria memakai kacamata hitam itu, membuka kacamata yang menutupi matanya.

"Selamat pagi." sapanya ramah.

"Ternyata kamu pak Bagas," Atifa berdecak lucu.

"Mari, saya antar ke kampus." sopan santunnya, membuat Atifa kerap kali membandingkannya dengan Farhan. Bos dan karyawan yang memiliki sifat yang berbanding terbalik.

***

Makanlah sebelum belajar, agar pikiran terisi segar. Begitulah motto hidup Vanesha Anastasya, makan selalu jadi nomor satu dalam hidupnya. Sebelum memulai pelajaran, Atifa menemani Vanesha makan di kantin terlebih dahulu. Walau kadang Atica sudah makan di rumah, tapi tetap saja Atifa tergoda saat melihat Vanesha makan sehingga Atifa ikut makan dengannya.

Bubur ayam di kampus kami ini terkenal karena rasanya yang enak, bumbunya yang pekat menambah rasa nikmat. Selain makanan, ada minuman favorit di kantin ini yang selalu menjadi menu rekomendasi yaitu air teh lemon. Perpaduan antara air teh hangat manis, dengan perasaan jeruk lemon yang asam menyatu dengan sempurna.

Seharusnya ini menjadi menu makanan yang sangat spesial, namun hari ini Atica tidak memiliki selera yang bagus. Atifa belum menyentuh makanan yang tadi Atifa pesan, sedari tadi tangan Atifa hanya memegang sendok tapi tidak menyendok buburnya. Hal itu membuat Vanesha jail, dengan menarik semangkuk bubur milik Atifa.

Tafsir CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang