Selamat membaca.
*
*
Atifa diguncang rasa khawatir, membuatnya terjaga sepanjang malam. Rasanya berat sekali untuk melakukan aktivitas, sehingga Atifa hanya ingin terus berada di atas kasur untuk bermalasan. Walaupun Atifa sudah bersiap, tapi Atifa terus menunda-nunda untuk bergerak. Memilih rebahan di atas kasur, tapi sayangnya tidak bisa menutup mata. Menunggu adalah hal yang paling menakutkan baginya, setidaknya untuk saat ini.
Jari telunjuknya mengetuk pelan ranjang, pergerakannya bak jarum jam. Tok, tok, tok, yang tiap detiknya terasa cepat. Keringat mengucur di pelipis Atifa, suhu tubuhnya juga panas dingin. Manik mata Atifa menatap kosong, memikirkan pikiran buruk bak sedang dihantui bayang-bayang menyeramkan. Semakin larut Atifa dalam lamunan, semakin Atifa meyakinkan diri. Bahwa semua akan baik-baik saja.
Seketika Atifa tersadar, lalu bangkit dari tidurnya. Setelah itu Atifa duduk di tepi ranjang.
"Apa aku yang lakuin, kenapa aku jadi penakut kaya gini!" gertak Atifa kesal dirinya sendiri.
Wanita keras kepala ini lantas berdiri, lalu merapikan bajunya yang sedikit kucal karena tiduran. Tangan Atifa meraih tas ransel yang sudah siap di atas meja belajar, lalu melangkah menuju pintu keluar. Atifa memutar knop pintu sambil berjalan penuh percaya diri dengan dagu yang Atifa angkat seperti sudah tidak ada ketakutan lagi.
Tapi baru satu langkah kakinya keluar pintu kamar, langkah Atifa terhenti dan kembali menarik kakinya. Atifa langsung menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu, Atifa kembali ragu seketika.
"Ah, aku bisa stres kalo kaya gini terus." lebaynya.
***
"Ini rumah siapa pak?" tanya Bagas kepo.
Sepanjang perjalanan Bagas memberi Farhan seribu pertanyaan, kenapa hari ini beliau datang ke kantor lagi? Kenapa memintanya untuk ke suatu tempat dulu sebelum ke kantor? Mau kemana? Apa yang akan bosnya lakukan? Dan pertanyaan lainnya, namun tidak satu pun dijawab oleh Farhan. Farhan tetap fokus dengan handphonenya, namun tidak bisa dipungkiri jika di kepalanya menyimpan banyak beban.
"Kita sudah sampai pak," ucap Bagas, mengingatkan bosnya yang dari tadi sedang fokus, entah apa yang dilakukannya. Hingga tidak kunjung turun, bahkan setelah lima menit mereka sudah tiba.
"Kamu turun duluan." perintah Farhan.
Bagas menuruti perintah Farhan untuk turun mobil terlebih dahulu, sedangkan Farhan masih tetap di dalam mobil. Bagas mengintip dari dalam mobil ingin tahu apa yang dilakukan bosnya itu, hingga niat jailnya muncul. Bagas membuka pintu mobil dan hal itu tidak disadari oleh Farhan, dengan lancang Bagas menyalakan klakson mobil.
Tinn!!
"Kamu ngapain si!!" hentak Farhan terkejut.
Tentu saja bunyi klakson mobil juga mengejutkan sang pemilik rumah, Atifa bergegas lari menuruni anak tunggu untuk turun ke bawah. Tibanya di bawah Atifa mendapati mama yang sedang menyiapkan sarapan pagi, lalu Atifa menghampirinya untuk pamitan. Setelah bersalaman dengan mama, Atifa bergegas menuju keluar tanpa berkata apapun. Meninggalkan mamanya yang sedang menatapnya bingung, kakinya ingin mengejar namun tidak sempat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tafsir Cinta
Teen FictionTafsir Cinta bercerita tentang dua insan yang tidak sengaja dipertemukan lalu di satukan. Makna cinta yang luas membuat mereka tidak memiliki tujuan yang sama, berusaha mempertahankan ego hanya demi sebuah alasan. Kepercayaan yang di taruh di pundak...
