#49 Tentang Atifa

12 1 0
                                        

*Tafsir Cinta*

*

*

Hubungan ibu dan anak ini memang membingungkan, tidak terlalu dekat tapi juga tidak terlalu jauh. Perbedaan pendapat memang kerap terjadi, namun pada akhirnya tetap tidak juga menemukan titik akhir. Namun kehadirannya, amat penting bagi Atifa. Baginya, seorang ibu adalah sumber kebaikan dan kebahagiaanya. Apa yang diinginkan ibunya akan menjadi kewajiban bagi Atifa.

Jika Farhan mengartikan kasih sayang itu sesuai dengan kebutuhan, Atifa mengartikannya sesuai dengan keadaan. Orang tua memang senantiasa akan mencurahkan kasih sayang kepada anak mereka secara alami, tanpa adanya dorongan dari apapun. Kasih sayang itu tumbuhnya dari dalam hati, tapi sedangkan hati itu sendiri memiliki kecenderungan potensi naik turun.

Dan saat itulah, hati seorang anak menjadi bimbang. Terkadang salah paham, lalu disalah artikan tanpa menanyakan jawaban. Kebersamaan diantara ibu dan anak ini jarang sekali terjadi, mungkin karena memiliki hobi yang berbeda. Namun ada satu tempat yang selalu mempersatukan mereka, yaitu dapur. Sebagai sesama wanita, dapur menjadi tempat yang disering dikunjungi bersama.

Seperti saat ini, ibu dan anak ini sedang menyiapkan sarapan bersama. Dan tidak lupa juga ada mertuanya yang ikut serta. Atifa sedang menyiapkan desert, mamanya sedang memasak roti goreng, lalu ibu mertuanya sedang memotong buah-buahan.

"Aduh, kenapa perut aku sakit," kata ibu Hanifah yang tiba-tiba memegang perutnya.

"Ibu gak papa?" kata Atifa cepat langsung menghampiri ibu Hanifa yang sedang duduk di meja.

"Kayaknya ibu diare deh," kata ibu Hanifah menebak.

"Yasudah, kamu ke kamar mandi aja dulu." perintah mamah Nayya.

"Aku tinggal dulu ya, adu duhh.." kata ibu Hanifa bangkit dari duduk.

"Iya, kamu tenang aja. Sarapan sebentar lagi selesai, lebih baik kamu tunggu aja." usul mama Nayya.

"Maaf ya," kata ibu tidak enak.

"Udah lah, jangan sungkan." kata mama santai.

"Mau aku antar Bu?" tawar Atifa.

Ibu tampak sekali kesakitan, karena memang setau Atifa ibu memiliki riwayat penyakit mag, juga tidak bisa makan makanan yang pedas. Perutnya sangat sensitif.

"Ibu bisa jalan sendiri, ini cuma sakit perut biasa," kata ibu lalu pergi.

Tinggallah ibu dan anak yang tidak pernah satu pendapat ini. Atifa sontak melanjutkan aktivitasnya, menghias pundding yang telah dia buat sembari duduk di atas bangku. Sedangkan mama sudah selesai membuat roti goreng, sehingga saat ini mama menyelesaikan tugas ibu Hanifa memotong buah. Suasana saat ini hening, hanya ada suara pisau yang bertemu talenan.

Walau ibu dan anak ini sedang duduk berhadapan, tapi sama sekali tidak saling bertatapan. Atifa sendiri tidak berani memulai pembicaraan, karena ketika Atifa membuka mulut. Maka itu artinya, Atifa tidak akan bisa menutup mulut dengan cepat. Sehingga Atifa memilih fokus menghias pudding, agar tampak cantik saat dilihat, walau pada akhirnya akan tetap hancur.

"Mama harap, mama akan segera mendapat kabar," kata mamah tiba-tiba.

"Kabar apa?" tanya Atifa tidak mengerti.

"Kehamilan kamu," kata mamah tanpa beban.

Atifa yang awalnya tampak semangat menghias, kini semangatnya padam setelah mendengar satu kalimat keramat terucap. Ya Allah, ini bahkan bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal itu.

"Aku juga berharap bisa memberi kabar itu," kata Atifa berat.

"Setidaknya kamu harus berusaha," tegas mama.

Tafsir CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang