#54 Selesai Sudah

32 1 0
                                        

*Tafsir Cinta*

*

*

Masa trimester pertama merupakan masa awal yang berat bagi ibu hamil, di tengah mual-mual yang melanda namun selera makan malah meningkat. Dan yang paling menyusahkan itu tatkala mengidam, saat tiba-tiba ada makanan yang ingin Atifa makan. Syukurlah Farhan sama sekali tidak keberatan, untuk memenuhi semua keinginan Atifa.

Tapi Atifa terkadang menjunjung tinggi harga dirinya, hingga kadang Atifa diam-diam memakan sesuatu yang dia inginkan seorang diri tanpa memberi tahu Farhan. Seperti saat ini, entah kenapa Atifa sangat ingin makan rujak. Namun waktunya sangat tidak tepat, tapi Atifa sangat ingin segera memakannya. Lalu pada akhirnya, Atifa membeli beberapa buah sebelum pergi.

Setelah membelinya Atifa lantas mengeksekusi buah yang tadi dibeli, juga tidak lupa membuat bumbu rujaknya. Rasanya yang manis, asam, asin, dan pedas, dapat membuat hamil merasa segar.

"Masya Allah," kata Atifa senang, karena akhirnya keinginannya terwujud.

"Kenapa gak terlalu asem mangganya," heran Atifa, tapi yang lebih diherankan lagi Atifa tiba-tiba suka makan asam.

Bawaan hamil ini sungguh memberi banyak pengalaman yang luar biasa bagi Atifa, khususnya menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Ketika harus mengandung selama sembilan bulan, lalu melahirkan seorang anak.

"Kamu mau makan apa?" percakapan seseorang terdengar dari tempat duduk di depan Atifa.

"Samain aja sama kamu," kata sang perempuan pasrah.

Atifa yang hendak menyuap tidak jadi. "Astagfirullah," ucap Atifa.

Andai, Atifa juga ditemani olah suaminya. Mungkin momen yang Atifa dengar, akan Atifa rasakan juga. Duduk bersama sembari makan rujak, saling melempar perhatian, candaan, juga mendatangkan kebahagiaan. Sungguh indah rasanya, walau hanya membayangkannya saja. Seketika Atifa merasa menyesal, karena tidak memberitahukan Farhan perihal ngidamnya ini.

Tapi saat membayangkannya membuat Atifa seketika tersadar, akan suara yang sepertinya Atifa kenal. Atifa mencondongkan tubuhnya ke depan, berusaha mendengarkan suara itu sembari mengenalinya. Atifa memasang telinganya dengan teliti, menguping pembicaraan sepasang pria dan wanita yang sudah dipastikan hubungannya sangat dekat.

"Kenapa suaranya gak asing," ucap Atifa pelan.

Tidak tanggung-tanggung, Atifa menguping pembicaraan sepasang itu sembari berdiri. Otak Atifa berpikir keras berusaha mengenali suara itu, namun tiba-tiba rasa mual kembali menimpanya. Rujak yang belum lama Atifa makan, seketika ingin keluar.

"Uwek!!"

Atifa langsung menutup mulutnya, setelah kelepasan mengeluarkan suara besar.

"Uwek!!"

Tidak ada yang bisa membantu Atifa, hingga membuat Atifa kalang kabut tidak tahu harus gimana.

"Atifa," panggil seseorang terkejut.

Atifa lantas melihat dari mana sumber suara itu, setelah melihat wajah sumber suara itu membuat Atifa tersenyum sumringah akibat senang.

"Aku bener kan, itu kamu. Aku gak salah," kata Atifa kelewat senang.

"Ya, ini aku. Kamu ngapain di sini?" tanyanya heran.

"E– A–ku, uwek. Bentar," Atifa tidak kuasa menahan rasa mualnya.

Atifa berlari menuju westafel yang berada tidak jauh dari tempatnya makan tadi, lalu mengeluarkan makanan yang bahkan belum dicerna lambungnya. Seorang pria itu lari mengikuti Atifa, beserta seorang wanita yang tadi bersama pria itu.

Tafsir CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang