#19 Kenyataan Pahit

18 2 0
                                        

*Selamat Membaca*

*

*

Di tengah persiapan pernikahan yang cukup melelahkan, Atifa juga digempur dengan banyaknya tugas di perkuliahan. Bendera menyerah ingin Atifa kibarkan, namun situasi memberinya tamparan. Sebab bukan Atifa saja yang sedang berada di situasi ini, ada orang lain juga yang sedang merasakannya. Siapa lagi kalau bukan calon suaminya, Farhan juga sedang menempuh studi S2 dan di tambah Farhan juga harus menjalankan usahanya.

Pernyataan yang mengatakan bahwa jodohmu adalah cerminan dirimu, sepertinya itu tidak berlaku pada kami. Farhan Al Khalid orang yang paling disiplin, ambis dan sangat patuh. Sedangkan Atifa, sikapnya berbanding terbalik dengan Farhan, apa ini berarti kami ini sebenarnya tidak berjodoh? Tapi Atifa pernah mendengar ceramah bahwa, akan ada seseorang yang akan merubah hidupmu. Apa Atifa termasuk salah satunya?

Rasanya malu sekali jika Atifa kelak akan bersanding dengannya. Istilah pernikahan yang membawa dua insan berjalan bersama sepertinya akan menjadi, Farhan akan menuntun Atifa bersamanya. Terdengar aneh, tapi begitulah faktanya. Karena hanya begini saja Atifa rasanya ingin menyerah, saat di hadapkan dengan buku-buku yang tergeletak berantakan di atas meja belajar perpustakaan.

Atifa tidak terlalu bersemangat dalam belajar, begitupun dengan hidup. Entah perubahan apa yang akan terjadi, dengan hidupnya yang Atifa jalani saat ini.

"Cepet selesain," pukul Vanesha pada Atifa yang hampir menutup matanya akibat mengantuk.

"Aku bingung banget sama kamu," katanya tiba-tiba.

"Bingung kenapa?" tanya Atifa polos.

"Kenapa orang yang malas belajar kaya kamu bisa dapet nilai yang bagus?" keluh Vanesha, lelah melihat sikap kawannya.

"Kenapa lagi? Aku ini cuma beruntung," kata Atifa enteng, lalu meletakkan kepalanya di atas meja.

Amarah Vanesha semakin naik pitam, tangan kanannya sudah mengepal sempurna. Saat hendak melayangkannya, bayangan seseorang menghentikannya.

"Atifa,"

Mendengar ada suara cowo yang memanggil namanya, Atifa lantas mengangkat kepalanya tidak terlalu tinggi. Melihat sumber suara itu, sosok pria yang tidak pernah jauh dari sisinya.

"Gio, ada apa?" tanya Atifa setengah sadar.

"Aku mau minta penjelasan sama kamu," tuntutnya.

"Penjelasan apa?" tidak mengerti Atifa.

"Soal cowo yang sama kamu kemarin?" tanya Gio.

Mata Atifa langsung terbuka lebar, saat mendengar ucapan Gio yang memintanya untuk memberikan penjelasan perihal hari itu, seketika Atifa sangat tertekan saat itu juga.

"Cowo?" sambar Vanesha ingin tahu.

Apa ini saatnya mereka harus tau? Batin Atifa. Sebelumnya Atifa memang berniat ingin memberitahukan Vanesha sahabatnya dan Gio sang pengagumnya, agar berhenti berharap kepadanya. Tapi Atifa berniat untuk memberitahu mereka saat satu Minggu sebelum pernikahan Atifa, tapi sepertinya ini semua tidak akan berjalan sesuai rencana Atifa.

Sepertinya Atifa memang harus memberitahukan mereka dari jauh-jauh hari, agar tidak terlalu terkejut bagi Vanesha dan agar tidak terlalu sakit untuk Gio.

"Sebenarnya-" Atifa menguatkan diri untuk berbicara.

Gio kini sudah duduk di depan Atifa. Gio dan Vanesha sedang memasang wajah serius, siap mendengarkan penjelasan Atifa.

Tafsir CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang