Jungkook seperti orang kesetanan mengendari kendaraan menuju ke tempat yang Rose sebutkan. Bagaimana bisa Rose berada di tempat yang sangat jauh di ujung kota ini? Hujan turun dengan sangat deras, jika dia memang tidak memperdulikan dirinya sendiri setidaknya ingatlah tentang bayi yang berada di perutnya itu! Ah, Jungkook sangat jengkel.
"Apa kau sudah gila!? Sudah berapa lama kau basah kuyup begini?!" teriak Jungkook lalu mengalungkan jaket kulit miliknya ke tubuh Rose yang terlihat sudah memucat.
Jungkook memandangi tubuh Rose yang terlihat setengah basah padahal dirinya sudah berteduh di sebuah gubuk tua. Antara Rose baru kehujanan atau basahan itu sudah mulai mengering yang artinya Rose sudah lama kehujanan.
"Ayo pulang. Tidak, kita ke rumah sakit." ajak Jungkook tapi dengan cepat Rose mencegah langkahnya dengan menarik lengan itu. "Kenapa? Kau pusing? Mual?"
Rose menggeleng, "Bayi ini baik-baik saja. Dan akan aku pastikan akan selalu baik sampai dia terlahir, Kook"
"Apa maksudmu?" bingung Jungkook. "Pastikan juga mereka tumbuh sangat baik dan kuat, jadi kau berhenti bersikap seperti ini dan jadilah dewasa, Rose."
Rose kembali menggeleng, kali ini disertai tangisan hingga dia menutup seluruh wajahnya dengan tangannya. Jungkook semakin bingung apa yang terjadi dengan sahabatnya ini.
"Aku hanya akan bertahan sampai anak ini lahir, Kook. Tolong jaga mereka untuk kami." tutur Rose.
"Kau sudah gila? Menurutmu dia akan senang jika kau berfikiran seperti ini? Bukan ini yang dia harapkan Roseanne, kumohon sadarlah! Kau ini kenapa?" sudah puncak Jungkook menahan kesabarannya. Jika biasanya ia akan datang dan memeluk, kali ini Jungkook berbeda. Mungkin karena naiknya jabatan dan semakin banyak hal runyam di Kepolisian yang harus ia selesaikan.
"Tidak semuanya harus sesuai apa yang dia mau, Kook! Aku, aku hanya lelah. Aku mencoba melupakannya dan hidup normal seperti biasa tapi aku tidak bisa!"
Rose berdiri, memukul dada Jungkook dihadapannya.
"Aku mencintainya, Kook. Aku sangat mencintainya" dan Rose kembali menangis. Matanya masih menatap lurus ke arah mata Jungkook.
"Jika kau memang mencintainya, hiduplah bahagia Rose. Jaga dirimu dan anak-anak kalian dengan baik. Aku akan menjaga kalian juga, itu permintaannya. Walau tanpa diminta pun, aku akan tetap menjagamu" jawab Jungkook sambil mencengkram kedua pundak Rose.
"Kau tak mengerti, Kook"
Astaga, hilang kesabaran Jungkook "Kau yang tak mengerti! Lihat dirimu, Rose! Kau akan segera menjadi seorang Ibu. Kau harus kuat dan bisa bertahan demi anak-anakmu! Kau harusnya paham sekali bagaimana perasaan seorang anak tanpa kasih sayang Ibu. KAU HARUSNYA PAHAM ROSIE!"
"AKU MELIHATNYA! AKU SUDAH MELIHAT TEMPATNYA BERISTIRAHAT!" tangisan Rose makin deras, nafasnya pun tecekat. Tatapan Rose melemah, matanya memerah.
Berbeda dengan Jungkook yang kebingungan dengan maksud Rose. Alisnya bertaut, meminta Rose menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang dia lihat sampai membuatnya seperti ini.
Jungkook sering melihat Rose dalam keadaan lemahnya, namun sepertinya inilah titik terendah seorang Roseanne.
"Apa?" tanya Jungkook lagi.
"Aku melihatnya, makamnya. Aku mengetahui itu"
Hujan turun semakin deras, hingga membuat suara Rose teredam oleh suara derasnya hujan.
Jungkook ikut tercengang mendengarnya karena jujur saja, bahkan Jungkook yang mengetahui kejadian pada hari itu sampai saat ini belum mengetahui dimana tempat saudara tirinya itu di istirahatkan.
"Saat mendengarkan percakapanmu dengan Jiho dulu, jujur aku terkejut tapi aku masih tidak percaya jika dia pergi meninggalkanku sebelum aku melihatnya sendiri! Tapi hari ini, semua ucapanmu terbukti, Kook. Dia.." Rose mengambil jeda karena isakan tangisnya, "Dia.. memang benar pergi meninggalkanku sendiri"
Jungkook pun ikut terdiam dibuatnya, memilih untuk memeluk Rose untuk menenangkannya namun wanita itu menolak dan mendorong tubuh Jungkook menjauhinya.
"Kau yang membunuhnya kan? KENAPA?!?! KAU TAU BAHWA AKU SANGAT MENCINTAINYA! KENAPA KAU MEMBUNUHNYA!" Rose makin histeris dibuatnya.
"Kau harus bertanggung jawab, Kook! Kau harus! Besarkan anak-anak ini sendirian, itu tanggung jawabmu karena kau yang membunuh Ayah mereka! Aku.. aku ingin bertemu dengannya, aku akan pergi menyusulnya!"
Dengan langkah dan gerakan yang tegas, Jungkook meraih tubuh Rose untuk dipeluknya. Tangisan Rose semakin tidak terbendung dan memilih menangis sepuasnya didalam pelukan Jungkook.
Tidak ada perasaan berarti bagi Jungkook tentang apa yang ia lakukan kepada Jaehyun dulu, karena ia pikir Rose bisa mengerti dan menerimanya. Namun nyatanya, setelah melihatnya sekarang, melihat betapa besar perasaan Rose terhadap Jaehyun, dan melihat perjuangan Rose untuk siap dan menerima kondisinya, membuat Jungkook merasa bahwa dirinya lah sumber yang mendatangkan seluruh kesedihan kepada Rose.
"Aku minta maaf.. Aku minta maaf, Rose. Aku minta maaf" ucap Jungkook pelan sambil memeluk tubuh Rose. Tanpa sadar bahwa ada air mata juga yang mengalir diwajahnya.
|Monster in Me|
Sebuah mobil sedan yang sudah terparkir dari sore disebrang jalan arah berlawanan dengan mobil Jungkook mulai menaikkan kacanya. Sang penumpang di kursi belakang yang melakukannya.
Sudah hampir 2 jam mobil itu terparkir hanya untuk meihat Rose yang duduk terdiam di sebuah pondok tua tanpa melakukan apa-apa.
Hingga semua percakapan dan tingkah laku 2 insan di sebrang sana, ia ketahuinya.
"Bagaimana, tuan?" tanya sang sopir.
"Dia mengikutiku sejak tadi rupanya. Ayo jalan, anggap kejadian ini tidak pernah terjadi. Lupakan saja"
Sang sopir mengangguk lalu mulai melajukan mobil meninggalkan tempat itu.
To be continued...
WKWKWKWK.
Long time no see guys. Gimana nih? Lama ga update hehehe. Menjelang chapter terakhir, aku jadi double kebut karena rencananya mau buat squel ini di trakteer hehe.
Semoga ga mengecewakan ya hehe, kalau gasuka silahkan cari bacaan lain. Tapi yakin? soalnya jaehyun ---------- hwehwehwe.
Mampir twitter aku yuk, di @Cerifebruary. Aku buat aku jaeros disana.
Thank you buat yang setia nungguin, baca, like, sama komen. love you:3
KAMU SEDANG MEMBACA
Monster In Me
FanfictionWhy don't we kill each other slowly? Squeeze a little tighter 'til we can't breathe. "What can I say? what can I do?" The monster in me loves the monster in you. [Update every monday]
