Hentakan heels milik Jiho semakin terdengar karena pemiliknya sedikit berlari menuju ke meja bundar dihadapannya. Meja yang berisikan sekumpulan pria berjas, dan kalau mata Jiho tidak salah melihat salah seorang berjas itu ia mengenalnya.
Semakin dekat Jiho dengan sosok yang ia lihat seperti Jeffrey itu, sosoknya semakin terlihat nyata dan bahkan Jiho dapat mendnegar suara tawanya yang juga ia kenali sebelumnya.
Hanya beberapa langkah lagi untuk bisa berdiri di hadapan pria itu, sekaligus memastikan pria itu memang Jeffrey atau bukan, langkahnya harus terhenti karena seseorang memegang tangannya.
"Kenapa, Nyonya?" tanya Jiho sedikit geram
"Dokter pribadiku baru saja menelfon, Rose akan melahirkan sekarang. Sebaiknya kita kembali dari pesta dan menemaninya, Nona Jiho" jawab Ms. Jeremy itu dengan sedikit menarik tangan Jiho menjauh untuk pamit dari pesta.
Tidak ada yang Jiho khawatirkan selama disini selainkan detik-detik kelahiran si kembar milik sahabatnya, Rose. Dan kenapa hal ini terjadi disaat yang tidak pas menurutnya.
Di sela-sela Jiho berjalan, kepalanya menatap kebelakang untuk melihat tentang sosok itu. Dan hilang, sosok itu tidak ada. Apa dirinya sudah sepenuhnya dibawah pengaruh alkohol? Apa baru saja dirinya berhalusinasi? Pikiran Jiho jadi kacau saat ini.
Tidak berhenti disana, kini pikiran Jiho semakin kacau kala mobil yang ia kendarai harus terjebak macet. Sahabatnya tengah berjuang dengan persalinannya, tidak mungkin Jiho tega dengan membiarkannya berjuang sendirian. Perasaannya campur aduk, ingin sekali ia keluar dari mobil ini tapi Stockholm masih sangat asing baginya. Dirinya tidak mungkin gegabah dan menimbulkan masalah baru, jadi yang Jiho bisa lakukan saat ini adalah berdoa. Mendoakan kelancaran persalinan Rose dan meredanya kemacetan di kota ini.
"Tenanglah, aku yakin Rose baik-baik saja disana. Dokter pribadiku sangat bisa diandalkan. Percayalah Nona Jiho" kata Ny. J
"Bukan itu, Rose pasti membutuhkan ku untuk menemaninya selama persalinan berlangsung Nyonya. Dia tidak bisa sendirian"
Wanita paruh baya yang duduk tepat disebelah Jiho itu tersenyum, "Dia tidak sendirian, kau jangan khawatir"
Apa maksudnya itu?
|Monster in Me|
Jika selama ini wanita itu banyak mendengar ucapan bahwa melahirkan seperti mematahkan semua tulang rusukmu, hari ini, detik ini Rose merasakannya sendiri. Iya, sendirian. Ia sudah meminta Dokter untuk menghubungi Jiho tapi kenapa sahabatnya itu tak kunjung sampai? Untuk Jungkook, sesaat kontraksi di perut Rose terasa, dirinya sudah menghubungi Jungkook dan dengan segera sang polisi itu mencari penerbangan ke Swedia.
Rose tidak dapat merasakan apa-apa lagi selain sakit. Ia ingin si kembarnya segera lahir dengan selamat. Bantal dan seprai pun tak luput dari cengkraman tangan Rose sebagai bentuk pelampiasan kesakitannya.
"Astaga... kau harus kuat, Rosie. Kau harus bertemu dengan anak ini" gumam Rosie menguatkan dirinya sendiri hingga akhirnya Dokter mengatakan Rose sudah sangat siap untuk proses persalinan. Satu orang perawat menenangkan Rose dari sisi kiri dan Dokter sedang memberikan intruksi mengejan kepada Rose.
Rose merasa dirinya sudah berada diambang batas kematiannya, ini sungguh menyakitkan bagi Rose, dia merasa sudah tidak sanggup lagi. Apa jika dia benar mati hari ini, Jaehyun akan menyambutnya dengan bangga di alam sana? Perasaan itu sedikit memudar saat seseorang datang lalu melingkarkan tangannya untuk memeluk kepala Rose.
KAMU SEDANG MEMBACA
Monster In Me
FanfictionWhy don't we kill each other slowly? Squeeze a little tighter 'til we can't breathe. "What can I say? what can I do?" The monster in me loves the monster in you. [Update every monday]
