23.Jangan Gerak, Nanti Hamil.

111K 5K 9.5K
                                        

Apinka, Aceng minta sorry ya. Kemarin sibuk malmingan sampe lupa buat double up. Maapin gih? Hehehe, Aceng khilap🤸‍♂️

Selamat membaca. Untuk kalian jaga kesehatan selalu dan jangan lupa bahagia🤸‍♂️

===•===

⚠WARNING!!!

THIS STORY CONTAINS HARSH SPEECH, SEX, OBSESSION, HARASSMENT, AND VIOLENCE.

===•===

SHUT UP AND WATCH.

===•===

STUCK IN THE DARK.

===•===

   “Bangun Cutie,” bisik Alzada sambil menggigit kecil cuping Daisy.

   Gadis itu menjerapkan matanya. Mengumpulkan kesadarannya sebelum akhirnya mendudukan diri diatas ranjang. “Kok aku disini? Kapan kita pulang Ren?” tanya Daisy bingung.

   “Tadi pagi jam 3,”

   Kening Daisy mengerut, “kaki kanan aku udah gak terlalu sakit. Eh? Kaki kiri aku kenapa diperban Ren?”

   “Ada tulang yang retak,” balas Alzada singkat.

   Senyuman dibibir Daisy memudar. Dia menatap Alzada yang sedang membuka jaketnya. Alzada bangsat! Alzada anjing! Ingin sekali Daisy mengumpati kalimat itu namun jika dia lakukan, mungkin Daisy akan dibunuh detik itu juga. Daisy menatap kakinya yang malang. Dia bersyukur karena kaki kanannya tidak separah kaki kirinya. Sepertinya kaki kanannya hanya terkilir. Itu sebabnya sekarang tidak terlalu sakit digerakkan. Ngomong-ngomong, kapan Alzada mengobatinya?

   Daisy mengangkat pandangannya. Mata gadis itu terbelak ketika melihat bekas luka dipunggung Alzada yang begitu banyak. Kenapa Daisy baru menyadarinya? Ketika Alzada berbalik, Daisy melihat pipi Alzada yang membiru. Dan sepertinya itu luka baru. Karena seingat Daisy, wajah Alzada tidak terluka. Hanya tangannya saja. Daisy menahan napas ketika Alzada merebahkan tubuhnya dipangkuannya. Menduselkan wajah tampannya itu pada perut rata Daisy. Daisy hanya diam. Tak menolak ataupun memberontak. Cukup lama diam, akhirnya gadis itu memberanikan diri bertanya.

   “Ren, pipi kamu kenapa?”

   “Dipukul daddy,” balas Alzada.

   “Hah?! Kok bisa?? Sakit nggak? Kenap—”

   “Cium. Nanti cepet sembuh,” sela Alzada dengan menujuk pipinya yang terluka. Daisy mendegus sebal lantas mencubit hidung mancung Alzada.

   “Modus!”

   “Daisy,” panggil Alzada sambil mencium punggung tangannya, “I only have you. Do not go. We'll continue to be fine like this, if you comply. Stay here. I will not hurt you.”

   Daisy diam. Tak merespon apapun. Dia mencintai Alzada hanya saja rasa takutnya lebih besar daripada rasa cintanya. Mungkin kalian berpikir kenapa Daisy begitu ingin lepas dari Alzada, sedangkan dulu Molla bertahan pada kegilaan Arlan. Molla dulu hanya disiksa dan melihat dirinya menjadi bahan untitan Arlan. Sedangkan Daisy? Gadis malang itu dengan matanya sendiri melihat seperti apa kepala manusia digantung dan tubuh manusia yang tercabik-cabik. Ditambah penyiksaan awal Alzada. Tidak heran jika gadis itu ingin pergi.

   “Ambil kotak P3K, tangan kamu bisa infeksi kalo gak diobatin.” Kata Daisy mengalihkan pembicaraan.

   Namun, Alzada menurut. Cowok itu bangkit dari posisinya. Mengambil kotak P3K dan kembali duduk disamping Daisy. Gadis itu menarik tangan Alzada. Mencabut beberapa serpihan kaca dengan sedikit meringis. Alzada tak berhenti tersenyum.

ALZADAISY[End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang