Bab 16

106 11 0
                                        

***

"Rafli, tolong angkat kantong belanjaan ini, dong."

Irma mengeluh pelan sambil menahan satu kantong penuh sayur di tangan kirinya. Dengan tangan kanan, dia menempelkan kartu akses ke pintu unit 22-6 Apartemen Clearbright—gedung yang sama dengan tempat tinggal Hardi.

Unit itu bukan miliknya. Hanya disewa sebagai lokasi syuting. Semua biaya ditanggung Irma, sementara Rafli sekadar menumpang.

"Ayo, sayang. Jangan bengong aja," tambah Irma, nada suaranya naik sedikit.

Rafli yang berdiri dengan hoodie putih dan celana kotak-kotak, akhirnya bergerak. Ia sendiri hanya membawa satu kantong berisi daging—bakso dan potongan daging marinasi.

Begitu pintu terbuka, isi ruangan langsung terlihat berantakan. Tripod berdiri di tengah ruangan, sejajar dengan sofa. Kamera belum terpasang, kabel dan properti syuting tersebar di beberapa sudut.

"Hari ini kita syuting apa, ya? Aku lupa," tanya Rafli sambil meletakkan belanjaan di meja.

Irma membuka ponsel, mengecek jadwal di Google Calendar.

"Mukbang suki dan grill," jawabnya dengan nada kembali bersemangat.

Rafli mengangguk kecil, mulai menyortir bahan.

"Alat grill sama kompor kecil sudah siap?" tanya Irma lagi.

"Belum. Aku set nanti setelah bahan siap."

"Ya udah. Kita masak kuah dulu, terus siapkan bumbu grill. Semua harus kelihatan di video."

Rafli bekerja tanpa banyak bicara. Sayuran dan daging dipisahkan ke dalam wadah-wadah kecil. Sesekali dirinya melirik jumlah bahan yang tampak berlebihan.

"Ini kita beli banyak, beb. Kita pakai sebagian dulu buat syuting?" tanyanya.

Irma tertawa ringan. "Sesuaikan saja sama kemampuan perut kita."

Rafli ikut tersenyum, lalu menaruh panci berisi air di atas kompor.

"Sibuk banget kamu besok," katanya santai.

"Foto untuk brand Yuuzu Cosmetics," jawab Irma, bangga. "Oh iya, besok kamu ada jadwal syuting lagi untuk konten TikTok?"

"Iya dong. Tahu sendiri TikTok-ku banyak yang suka, banyak yang post ulang. Akhirnya engagement-ku naik drastis."

Irma melirik sekilas. "Kamu sekarang lebih fokus ke TikTok, ya. Bahkan review makanan pun sendiri."

"Kenapa sih? Bukannya kamu juga sempat ikut?" tanya Rafli diikuti tawa kecil. "Nggak suka aku ngonten sendiri?"

Irma tidak menjawab lagi melainkan sibuk mengambil alat grill yang berada di lemari tegak dekat kulkas sebelah kanan.

Aroma kuah mulai tercium saat air mendidih. Irma mendekat, menghirupnya.

"Kuah tomyum. Untung pakai bumbu instan," gumamnya, lalu memasukkan bakso ke dalam panci.

"Oh iya, setelah dagingnya tercampur semua bumbu, baru boleh kita grill. Gimana saus untuk daging? Sudah kamu buat?" tanya Rafli dari ruang tengah.

"Sepertinya belum. Baru mau buat," jawab Irma dibalas tarikan napas berat dari Rafli.

"Duh, padahal syuting 30 menit lagi," keluhnya. "Dahlah, kamu buat dulu. Selagi masih harus siapkan kamera dan peralatan syuting lainnya."

Rafli melepas apron, lalu menuju ruang tengah. Kemudian dia mulai menata lighting, mengatur posisi kamera, serta menyiapkan dua kompor kecil untuk syuting.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang