Bab 38

79 3 0
                                        

***

Hardi memperhatikan Adelia yang sedang menikmati kue cokelat buatannya sambil duduk santai di sisi ranjang. Padahal ada meja makan, bahkan balkon yang lebih nyaman untuk bersantai, tetapi entah kenapa wanita itu justru memilih makan di atas ranjang seperti sedang berada di tempat paling aman baginya.

Dan anehnya, Hardi menyukai suasana itu.

"Pelan-pelan makannya," tegur Hardi lembut.

Tangannya terangkat tanpa sadar, menyeka sedikit krim cokelat yang menempel di ujung bibir Adelia.

"Kuenya besar, loh," lanjutnya sambil tertawa kecil. "Kamu udah habisin setengah. Nanti juga enek sendiri."

Adelia ikut tertawa pelan sambil menutup mulut dengan telapak tangan. Tawanya terdengar lembut dan anggun, membuat Hardi makin sulit mengalihkan pandangan.

"Mau lihat bintang dari balkon nggak?" tawar Hardi tiba-tiba.

Jarak mereka yang duduk berdampingan terasa begitu dekat. Tatapan mereka bahkan sempat bertemu beberapa detik, cukup lama untuk membuat Adelia salah tingkah.

Wanita itu membesarkan sedikit matanya sebelum menjawab pelan, "Boleh."

Hardi segera berdiri sambil membawa dua mug susu cokelat hangat yang tadi sempat dia buat.

"Ini masih hangat," ujarnya sambil menyerahkan salah satu mug kepada Adelia. "Enak diminum malam-malam begini."

Setelah itu, Hardi berjalan membuka pintu balkon.

Begitu pintu geser terbuka, angin malam langsung menyusup masuk. Adelia spontan mengusap kedua lengannya pelan karena udara dingin yang menyentuh kulitnya.

Mereka berdiri berdampingan di balkon apartemen lantai dua puluh itu.

Di atas sana, langit tampak cerah dengan taburan bintang yang berkelap-kelip indah.

"Enak kan, lihat bintang begini?" tanya Hardi membuka obrolan.

Tak lupa dia berdiri di sisi kanan Adelia sambil bersandar santai pada pagar balkon. Ketika menoleh, Hardi mendapati wanita itu sedang menatap langit dengan mata berbinar kagum.

"Aku suka," jawab Adelia jujur. "Pasti banyak penghuni apartemen lain yang keluar balkon cuma buat lihat pemandangan begini."

Hardi mengangguk kecil.

"Betul. Di sini memang enak buat cari suasana malam. Kadang orang-orang keluar sambil ngopi, minum susu hangat ..." Hardi mengangkat sedikit mug di tangannya. "Atau sekadar makan mie instan sambil lihat langit."

"Wah, kedengarannya nyaman banget."

Adelia menghirup udara malam perlahan, menikmati semilir angin yang membuat rambutnya bergerak pelan.

"Andai aja ..." gumamnya lirih. "Aku bisa tinggal di tempat seperti ini."

Hardi menoleh.

"Aku pasti bakal suka lihat bintang tiap malam," lanjut Adelia. "Minum sesuatu yang hangat sambil berdiri di balkon kayak sekarang."

Senyum kecil terbentuk di bibir Hardi.

Ucapan sederhana itu justru membuat dadanya terasa hangat. Untuk pertama kalinya, Hardi tidak lagi ingin menganggap hubungan mereka sebagai kepura-puraan semata. Justru, dia ingin lebih berani.

Tanpa sadar, Hardi sedikit mendekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan. Dan anehnya, Adelia tidak menjauh.

"Kalau sama kamu, Mas Hardi ..." suara Adelia terdengar pelan di tengah angin malam, "rasanya hal yang cuma kubayangin bisa jadi nyata."

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang