***
"Apa maksudnya aku nggak boleh panggil 'Mas' lagi?" tanya Adelia dengan nada meninggi.
Hardi langsung sadar kalau permintaannya terdengar aneh. Namun, menurutnya itu perlu—setidaknya untuk mencegah kesalahpahaman.
Dia tidak ingin hubungan mereka kembali menjadi bahan omongan.
Apalagi jika ada yang mulai mengira dirinya mempermainkan Adelia.
"Selama dua tahun ini kamu biasa panggil aku 'Pak', kan?" balas Hardi, mencoba membela diri. "Kenapa sekarang protes waktu aku nggak bolehin panggil 'Mas'?"
Adelia membuka mulut, tetapi Hardi lebih dulu melanjutkan penjelasannya.
"Aku cuma nggak mau orang salah paham," katanya serius. "Memang panggilan 'Mas' itu sopan, tapi kalau kamu terus manggil aku begitu di depan orang lain, mereka bakal mikir kita sudah seperti suami istri. Padahal kita aja belum menikah."
Adelia terdiam.
Wajah Hardi tampak sungguh-sungguh kali ini. Tidak bercanda sedikit pun.
"Jadi, tolong biasakan panggil nama saja," lanjutnya pelan. "Hardi."
Pria itu sedikit mencondongkan tubuh, seolah ingin memastikan Adelia benar-benar mengingatnya.
Adelia spontan mengerucutkan bibir.
"Hardi ... Hardi ..." gumamnya pelan, canggung sendiri. "Iya, aku panggil Hardi."
Cara bicaranya malah terdengar seperti anak kecil yang sedang belajar mengeja.
Hardi nyaris tertawa melihat ekspresi kikuk itu.
"Baik, jadi fix kita balikan, tapi nggak boleh sampai ketahuan Pak Budi." Hardi menarik kesimpulan pembicaraan sore itu.
"Iya, Mas—" Adelia buru-buru menghentikan diri. "Iya, Hardi."
Dia langsung memalingkan wajah, malu sendiri karena hampir salah lagi.
Sebenarnya Adelia juga paham alasan Hardi. Dulu saja Tio sempat salah paham hanya karena dirinya terlalu sering memanggil "Mas".
Suasana Kafe Brilliant mulai ramai menjelang malam. Meja-meja perlahan dipenuhi pegawai kantoran dari gedung Heitz. Setelan jas dan blazer mendominasi ruangan, menciptakan suasana profesional yang elegan.
Hardi sempat merasa canggung sendiri.
Di antara orang-orang itu, dia bukan bagian dari perusahaan Heitz. Namun, satu hal yang selalu dia akui—menu di Kafe Brilliant memang berbeda dari kebanyakan kedai kopi lain.
Karena sudah berjanji akan mentraktir, Adelia lebih dulu berdiri dari kursinya.
"Ayo."
Hardi ikut bangkit dan berjalan mendampinginya menuju meja kasir. Adelia tampak santai, seolah momen kecil seperti ini bisa menjadi latihan agar mereka tidak canggung lagi saat berpura-pura menjadi pasangan.
"Pesan satu dolce latte," ucap Adelia pada kasir sambil menunjuk Hardi. "Sama satu milkshake oreo."
"Baik, totalnya lima puluh sembilan ribu."
Adelia langsung menyerahkan kartu debitnya. Sementara Hardi hanya berdiri di samping, memperhatikan wanita itu memasukkan PIN hingga struk pembayaran tercetak.
"Ayo, tinggal tunggu nama dipanggil," ujar Adelia setelah transaksi selesai.
Tanpa sadar, dia langsung menautkan tangannya pada lengan Hardi.
Spontan tubuh Hardi sedikit menegang.
Sentuhan itu sederhana, tapi terasa berbeda setelah dua tahun menjaga jarak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomanceDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
