***
"Benar-benar sial. Kenapa kita harus menerima pria yang nyatanya belum bisa berpaling dari mantan istrinya?" gerutu Budi di ruang tamu.
Adelia yang sejak tadi duduk di sofa segera bangkit, lalu berlutut di hadapan ayahnya.
"Adel benar-benar minta maaf karena sudah membuat Ayah kecewa," ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh rasa bersalah yang menyesakkan dada.
Video yang beredar sepekan lalu masih terbayang jelas di benaknya. Gerak-gerik Hardi yang begitu dekat dengan Irma—bahkan terlalu dekat—membuat hatinya hancur.
"Hardi bukan pria baik yang Ayah pikir bisa membahagiakanmu," lanjut Budi, suaranya tegas. "Dia hanya memakai topeng untuk mengelabui kamu. Untung Ayah bisa menyelamatkan kamu. Kalau tidak, gimana nasibmu?"
Adelia menunduk semakin dalam. Ia tak berani menatap wajah ayahnya, hanya mampu mengulang kata maaf dalam diam.
"Putuskan hubunganmu dengan Hardi. Ayah tidak mau kamu berhubungan lagi dengannya."
Kalimat itu seperti palu yang menghantam kepalanya.
Putus.
Satu kata yang terasa begitu menakutkan.
Ada amarah dalam dirinya, tentu saja. Rasa sakit saat melihat video itu makin mengganjal dalam hati. Namun, di sisi lain, Adelia merasa masih butuh penjelasan dari Hardi. Ia tidak bisa mengambil keputusan hanya dari apa yang ia lihat.
"Adel nggak bisa putus dari Mas Hardi sebelum dia jelasin semuanya," ucapnya pelan namun tegas.
Budi langsung menoleh tajam.
"Ngapain kamu pertahankan pria yang tidak punya komitmen?" suaranya meninggi. "Jangan bilang kamu sudah terperdaya oleh Hardi sampai berani bicara seperti ini pada Ayah?"
Adelia mendongak. Kali ini, ia menatap langsung.
"Ayah mungkin melihat video itu dan langsung percaya," ujarnya hati-hati, "tapi setidaknya dengarkan dulu penjelasan Mas Hardi. Kalau saja dia dijebak, bagaimana?"
Adel tentu ingat bagaimana Irma pernah menuduh Hardi atas sesuatu yang belum tentu benar. Karena itu, dia ingin mendengar semuanya langsung dari Hardi.
"Tidak usah membela dia!" bentak Budi. "Jelas-jelas Hardi mencium mantan istrinya! Bahkan Irma sendiri mengakuinya. Tadi dia juga datang ke sini untuk minta maaf. Mau bukti apa lagi?"
Adelia terdiam.
Tangannya meremas ujung gaun yang dikenakannya. Entah kenapa, hatinya justru menolak untuk sepenuhnya menyalahkan Hardi. Rasa sakit itu ada, tetapi keyakinannya mengatakan ada sesuatu yang belum terungkap.
Sebelum sempat menjawab, sebuah suara memecah suasana.
"Selamat siang, Om Budi."
Keduanya menoleh bersamaan ke arah pintu.
Adelia spontan berdiri. Matanya membelalak.
Egi.
Pria berwajah bulat dengan hidung mancung itu berdiri di ambang pintu, mengenakan jas terbuka dengan kemeja putih di dalamnya. Di tangannya, tergenggam sebuket bunga.
"Oh, ada apa kemari, Egi?" Budi mendadak berubah sikap dan menjadi lebih lunak di hadapan Egi. Adelia justru terperanjat.
"Oh, ada apa ke sini, Gi?" Budi langsung berubah nada, jauh lebih ramah.
"Saya mau menemui Adel... sebagai teman," jawab Egi, terdengar canggung.
"Silakan masuk. Jangan sungkan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomansaDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
