***
"Dasar keterlaluan!" seru Egi saat berdiri di ruang tamu rumah Adelia. Nada suaranya menggema penuh amarah, sementara tatapannya menusuk tajam ke arah wanita itu. "Bagaimana bisa kamu secerdik itu membongkar semuanya, hah?"
Adelia tetap duduk tenang di sofa panjang berwarna biru gelap. Tatapannya dingin, bahkan cenderung meremehkan. Dalam situasi ini, dia tidak merasa bersalah sedikit pun karena telah menghancurkan pertunangannya sendiri. Sebaliknya, dia merasa telah menyelamatkan dirinya dari pria seperti Egi.
"Kamu bilang aku keterlaluan?" balas Adelia tanpa gentar. "Justru kamu yang keterlaluan, Egi. Kamu berencana merebut posisi CEO yang sekarang dipegang ayahku. Setelah itu, Ayah hanya akan jadi pemilik perusahaan, sementara kamu mengambil alih semuanya. Kamu pikir aku nggak tahu rencanamu?"
Egi mengacak rambutnya dengan kasar, frustrasi.
"Aku nggak pernah berniat seperti yang kamu pikirkan!" bentaknya. "Aku cuma punya mimpi mencapai posisi itu dan bekerja keras untuk meraihnya. Apa salahnya?"
Egi terus mengutarakan alibinya di ruang tamu, sementara Adelia duduk tenang di sofa panjang berwarna biru gelap, terus memperhatikan Egi yang semakin menyulutkan amarahnya.
"Kamu bicara begini karena ada Kak Tio dan Nabila di rumah, kan?"
"Aish, sialan!" umpat Egi semakin emosi.
"Sebelum kamu diusir oleh keluargaku, lebih baik pergi sekarang," ujar Adelia santai sambil menyilangkan kaki dengan anggun. "Ngapain datang di hari Minggu cuma buat melampiaskan amarah? Harusnya kamu menikmati hari liburmu, bukan bikin keributan."
Senyuman tipis di wajah Adelia justru membuat emosi Egi semakin membuncah. Tatapan pria itu berubah liar. Dalam satu gerakan cepat, dia menarik lengan Adelia hingga wanita itu berdiri paksa dari sofa.
"Dasar berandal!" bentaknya.
Tangannya mencengkeram pakaian Adelia dengan kasar hingga membuat wanita itu tersentak.
"Aku sudah tahu kamu bakal begini karena Kak Tio dan Nabila lagi sibuk kerja di kamar masing-masing," desis Adelia sambil menahan sakit. "Harusnya aku juga kerja hari ini, tapi kamu malah datang buat bikin masalah."
"Diam kamu!" Egi menunjuk wajah Adelia dengan tajam. "Kamu pikir kamu bisa berlaku seenaknya terhadapku? Aku akan balas semua yang kamu lakukan. Aku bakal menghancurkanmu seperti kamu menghancurkanku!"
"Coba saja," balas Adelia dingin. "Sekarang semua orang sudah tahu siapa dirimu sebenarnya. Apa kejadian dengan Kak Tio belum cukup buat menyadarkanmu?"
Ucapan itu menjadi pemantik terakhir.
Egi benar-benar kehilangan kendali. Dengan mata penuh amarah, tangannya terangkat hendak menampar Adelia.
Namun sebelum tamparan itu mendarat, suara berat tiba-tiba menggema dari arah pintu masuk.
"Kenapa kamu menyakiti putri saya?!"
Budi muncul dengan setelan jas hitam lengkap. Wajahnya berubah tegang saat melihat Egi menekan Adelia ke tembok.
"Lepaskan tanganmu dari putri saya!" bentaknya.
Egi terkejut. Refleks, dia melepaskan Adelia begitu saja hingga wanita itu terdorong dan jatuh tersungkur ke lantai.
"Om Budi," ujar Egi dengan napas memburu, "setelah semua usaha saya mendekati anak Anda, ini balasan yang saya dapat?"
Nada bicaranya sudah jauh dari sopan santun yang dulu selalu dia tunjukkan.
"Apakah Anda memang berniat memisahkan saya dari Adelia?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomanceDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
