Bab 26

98 9 0
                                        

***

"Ayah. Apa boleh Hardi jatuh cinta pada Adel?"

Di teras rumah hadiah dari orang tuanya, di kompleks dekat SCBD, Hardi melontarkan pertanyaan itu dengan suara nyaris ragu. Sore tadi, sepulang kantor, dia sengaja singgah. Hanya ada Yudhis di rumah.

Ayahnya sempat mengatur napas, menyeruput kopi buatan putranya, lalu menoleh menatap Hardi dari samping.

"Nak, kenapa ragu? Apa yang membuat kamu sampai nanya begitu?"

Hardi menggigit bibir bawah, pandangannya turun. Bahkan menatap ayahnya saja terasa berat.

"Jadi rekan kerja yang sempat kamu bawa ke unitmu itu ... benar ada hubungan?"

Yudhis ingin mendengar langsung dari mulut Hardi.

Sempat mendengus, Hardi pun membuka mulut. "Bukan pacaran. Cuma rekan kerja. Beneran."

"Terus kenapa kamu bertanya apa boleh jatuh cinta pada Adel?"

Saliva terasa tertelan berat.

"Kadang Hardi ada rasa sama dia. Kalau dekat Adel, jantung Hardi suka berdegup kencang." Ucapannya terhenti sebentar. "Tapi perasaan itu sama persis seperti waktu Hardi jatuh cinta sama Irma dulu. Hardi nggak mau ... hal itu terulang lagi."

Trauma itu belum benar-benar pergi.

Meski setiap hari bertemu Adelia di kantor, paranoia tetap membuntuti pikirannya. Bagaimana jika Adelia menyimpan sisi lain yang belum terlihat? Bagaimana kalau semua ini hanya pengulangan kesalahan lama?

Hardi ingin menyingkirkan pikiran buruk itu, tapi tetap saja Hardi perlu mengawasi hal-hal lebih jauh lagi.

"Kalau kamu yakin sama Adel, dekati dia," ujar Yudhis mantap. "Lihat sikapnya. Kenali dia. Kalau ternyata dia seburuk dugaanmu, tinggalkan. Sesederhana itu."

Nasihat itu mestinya menenangkan.

Namun batin Hardi justru berdebat sendiri.

Dua kali pacaran pura-pura tanpa hambatan bukan berarti aku siap mulai hubungan sungguhan.

Aku nggak boleh gegabah lagi.

***

Keesokan harinya, tepat pukul lima sore, Hardi sedang membereskan meja kerjanya.

Prinsip tenggo selalu dia pegang.

Komputer dimatikan, tas punggung diangkat dari bawah meja.

Saat itulah pintu ruangan terbuka begitu saja.

"Adel?"

Hardi menoleh terkejut.

"Kamu nggak ketuk pintu dulu?"

Adelia malah tersenyum lebar.

"Maaf, Mas. Aku mau nunggu Mas beres-beres."

Adelia lantas mendekati Hardi yang masih sibuk.

"Tadinya mau pulang sama Nabila, tapi kusuruh dia pulang dulu. Aku pengin pulang bareng Mas Hardi."

Aku ingin bicara tentang makan malam, Mas. Harap saja Mas Hardi ingat.

Hardi menyampirkan tas ke belakang bahu.

"Baiklah. Kita pulang bareng. Sekalian aku antar kamu."

"Aku tunggu di pantry, ya."

Kalimat andalan itu lagi.

Aneh, tapi telinga Hardi mulai terbiasa mendengarnya.

Setelah mengunci ruangannya, Hardi memanggil Adelia yang sedang meneguk air di pantry.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang