Bab 23

122 15 0
                                        

***

Bihun goreng menjadi bintang utama dalam makan malam keluarga Budi Kusuma. Aroma kecap asin yang gurih memenuhi ruang makan, membuat mata Nabila berbinar begitu ibunya menyajikan hidangan berikutnya ke atas meja panjang.

Semua anggota keluarga berkumpul malam itu.

Di sisi kiri meja, Adelia duduk berdampingan dengan Hardi. Di ujung dekat mereka, Tio menemani sang adik. Sementara di seberang, Budi duduk di kepala meja, kali ini tanpa wajah garang yang biasanya membuat suasana menegang. Di sampingnya ada Hesti dan Nabila.

"Kali ini, ayah sengaja mengundang Nak Hardi untuk menikmati makan malam spesial bersama keluarga." Nada bicara Budi terdengar seperti seorang pembawa acara, penuh wibawa. Tatapan Hardi tak lepas memperhatikan pria itu.

Budi berdeham pelan, lalu melanjutkan, "Sebelumnya, ayah mau minta maaf. Ayah sempat salah menilai tentang hubungan kalian."

Adelia hampir tak percaya mendengarnya.

Ayahnya meminta maaf. Terang-terangan.

Padahal dulu, lelaki itu paling keras mengekangnya soal hubungan asmara, bahkan pernah meninggalkan meja makan dalam amarah hanya karena membahas mantan-mantan Adelia. Semua itu masih jelas di ingatannya.

"Ayah," sela Adelia sambil tersenyum bangga, "Adel bilang juga apa? Mas Hardi itu orangnya baik. Mana ganteng pula, wajahnya masih segar."

"Ayah percaya sekarang." Budi menepuk punggung tangan putrinya, lalu memandang Hardi. "Nak Hardi, apa kabar?"

Bola mata Hardi sedikit membesar.

"Sa-saya baik, Om."

"Saya dengar kamu mantan suaminya influencer itu ... siapa namanya?" Budi menoleh pada anak bungsunya.

"Irma Riyanti, yah," sahut Nabila cepat.

"Oh iya, Irma Riyanti." Budi mengangguk. "Kamu yang waktu itu membela diri di acara ulang tahun itu, kan? Supaya nama baikmu pulih. Adel udah banyak cerita ke saya."

"Benar, Om. Saya cuma tidak mau terus difitnah."

"Dari semua mantannya Adel..." Budi terkekeh kecil. "Sepertinya kamu yang paling bersinar. Manajer pula di Oradi."

Adelia menahan senyum mendengar ayahnya lagi-lagi memuji.

"Tapi kalian nggak terang-terangan pacaran di kantor, kan?" sela Nabila penuh selidik.

Maklum, dia juga bekerja di Oradi.

"Ngapain kami pamer keromantisan di kantor?" elak Adelia cepat. "Di kantor ya profesional. Sesekali seperti bos dan anak buah, nggak masalah."

Hesti lalu menyela lembut.

"Nak Hardi, coba bihun gorengnya."

Hardi segera menyendok bihun dalam porsi besar ke piringnya.

Budi terkekeh. "Ayo makan semuanya. Tio, Nabila."

Percakapan pun mereda, digantikan bunyi sendok dan garpu beradu dengan piring.

Tak lama, Hardi bersuara di tengah makan.

"Bihun gorengnya enak, Tante."

Hesti tersenyum senang.

"Kecap asinnya terasa, tapi seimbang. Topingnya juga lengkap... bakso, sosis, kol, sawi." Hardi mengangguk puas. "Rasanya saya mau nambah."

"Mas Hardi." Adelia menyenggol pelan pria di sampingnya, mengingatkan agar jaga sikap. "Ini bukan restoran, ini acara makan malam keluargaku."

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang