***
"Perkenalkan, saya Hardi Yudhistira. Mulai hari ini, saya akan bekerja sebagai manajer di divisi Digital Marketing Oradi. Mohon kerja samanya."
Hardi tampil rapi dengan kemeja polos berlengan panjang. Penampilannya sederhana, tapi tetap memberi kesan profesional untuk hari pertamanya di Oradi. Sebenarnya, sejak kemarin dia sudah diminta untuk datang. Namun baru hari ini dia benar-benar siap memulai rutinitas barunya.
Tepuk tangan dari para pegawai menyambutnya hangat. Suasana itu cukup untuk mengisi kembali semangat Hardi yang sempat goyah.
Tentu, yang tak dia duga adalah soal ruang kerja.
Awalnya, Hardi mengira bakal duduk di antara para pegawai, mengawasi langsung dari meja kubikel seperti di kantor lamanya. Namun setelah sesi perkenalan selesai, dia justru dibawa ke sebuah ruangan khusus.
"Silakan, ini ruangan Anda. Bebas diatur sesuai kebutuhan," ujar Gunawan, supervisor marketing yang mengantarnya.
Hardi mengedarkan pandangan, mengamati setiap sudut ruangan.
Sama seperti ruangan Pak Umar. Berarti memang beda dengan FoodBeary.
"Ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Gunawan.
Hardi mengangguk pelan, masih terlihat sedikit canggung. "Jujur saja, suasananya terasa berbeda sekali dengan kantor lama saya. Bahkan ... rasanya jadi manajer di sini juga beda."
Gunawan tersenyum tipis. "Wajar. Setiap perusahaan punya sistem dan budaya kerja masing-masing. Di sini, strukturnya lebih lengkap. Semua berjalan sesuai peran supaya visi dan misi perusahaan bisa sejalan."
"Pantas orang-orang yang kerja di sini teratur semua." Hardi berkomentar mengandung pujian.
"Barang-barang milik manajer sebelumnya sudah kami kosongkan. Jadi Anda bisa langsung menata ruangan ini sesuai keinginan."
Hardi mengangguk, lalu meletakkan kotak berisi barang pribadinya di atas meja.
"Tapi, kalau meja saya terpisah begini, bagaimana saya memantau pekerjaan tim?" tanyanya lagi.
"Untuk hal itu, Anda cukup berkoordinasi dengan supervisor. Keputusan dari Anda akan diteruskan dan dijalankan oleh mereka. Supervisor yang akan mengawasi langsung kinerja tim."
Penjelasan itu membuat Hardi terdiam sejenak. Dia benar-benar mengalami culture shock.
"Baik, saya mengerti," ucapnya akhirnya. "Terima kasih, Pak Gunawan."
Gunawan membungkuk singkat sebelum keluar dari ruangan.
Setelah sendirian, Hardi mulai berkeliling. Rak buku di samping meja tampak rapi. Bahkan ada sudut kecil dengan alat pemanas air dan berbagai jenis kopi.
Sayangnya, tak satu pun terlihat seperti kopi favoritnya.
Mungkin harus bawa sendiri kopinya.
Tok.
Ketukan di pintu memecah keheningan.
"Masuk," sahut Hardi.
Pintu terbuka perlahan.
"Maaf, Mas Hardi."
Suara itu langsung membuat Hardi menoleh cepat. Dia sempat terpaku.
Adelia.
"Apa boleh mengganggu Mas Hardi sebentar?" tanya wanita blazer merah muda dan celana pensil senada, berdiri tegak di hadapan Hardi.
Sempat diam, Hardi memberikan respon. "Boleh. Ke ruang utama."
Mereka pun berpindah ke ruang utama Oradi—area santai dengan meja-meja bundar dan tanaman rambat yang menyegarkan mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomanceDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
