Bab 35

87 6 0
                                        

***

Mereka tiba di Kafe Brilliant tepat pukul setengah enam sore, setelah menyelesaikan pekerjaan masing-masing.

Kafe itu tidak terlalu ramai. Lampu-lampu hangat memantul di permukaan meja kayu, menciptakan suasana yang tenang—cukup untuk percakapan yang tidak mudah.

Adelia memilih tempat duduk di area booth, dekat barista. Dari posisi Hardi, terlihat jelas lobby gedung Heitz di sebelah kiri—lampu-lampu emas berjajar rapi, memberi kesan elegan sekaligus menenangkan.

Namun, suasana itu justru terasa kontras dengan apa yang akan mereka bahas.

Keduanya duduk berhadapan.

Belum ada pesanan.

Adelia menepati janjinya—dia akan mentraktir, tapi hanya setelah Hardi benar-benar jujur.

Adelia bersedekap. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi.

"Coba jelaskan, Mas. Apa yang sebenarnya terjadi waktu itu. Termasuk ... bagaimana bisa kamu dan Irma terekam berciuman."

Nada suaranya dingin, tapi tidak setajam dulu.

Hardi menunduk.

Tatapannya menyorot pada meja, seolah mencari keberanian. Menyusun kata demi kata terasa jauh lebih sulit daripada yang dia bayangkan.

Kalimat sederhana pun terasa berat.

Dia masih ingat kebohongan itu.

Tentang alasan menemui ayahnya.

Tentang penolakan terhadap ajakan Adelia saat itu.

Dan tentang keputusan bodoh yang dia ambil setelahnya.

"Aku ... aku ..." Masih ada keraguan dari Hardi untuk membuka mulut. "Aku bohong tentang pergi menemui ayahku. Saat itu ... aku pergi menemui Irma."

Adelia mengingat hal itu juga. Bagaimana Hardi yang menggeram kecil di depan pintu lift kantornya? Juga bagaimana dirinya panik begitu nomornya diblokir Hardi? Dugaannya benar kalau Hardi memang berniat bertemu Irma.

Alih-alih bereaksi, Adelia meminta Hardi untuk melanjutkan ceritanya. Si pembicara pun kembali membuka mulut, menjelaskan semua situasi yang terjadi.

Di tempat lain, jauh dari suasana tenang Kafe Brilliant—

Irma duduk di depan layar komputer.

Kamar itu milik Rafli. Tempat yang pernah menjadi pusat rencana licik yang kini membuahkan hasil.

Tangannya lincah menggerakkan tetikus, mengklik berbagai notifikasi di akun Instagram miliknya. Angka engagement terus naik. Komentar bertambah. Tawaran endorse berdatangan tanpa henti.

Senyum tipis terukir di bibirnya.

Kejayaannya kembali.

Semua ini tentu tidak lepas dari bantuan Rafli.

Namun, di balik itu, ada sesuatu yang perlahan dia abaikan—pekerjaannya di FoodBeary.

Semangatnya mempromosikan brand itu sudah lama meredup. Dia lebih menikmati dunia kecantikan, lebih tertarik membangun citra dirinya sendiri.

Akibatnya, pekerjaannya berantakan.

Dia mulai jarang hadir rapat.

Menghindari tanggung jawab.

Seolah masih menyimpan dendam lama—terutama sejak dirinya dipaksa menanggung kerugian besar akibat kesalahannya sendiri dua tahun lalu.

Irma menggigit jarinya sekarang. Dia masih terikat kontrak dengan FoodBeary. Tersisa setahun lagi dari yang dijanjikan.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang