***
Dua tahun yang lalu
Suasana ruang tamu rumah Adelia terasa begitu menyesakkan.
Budi duduk dengan wajah penuh kemarahan sambil menggenggam ponselnya erat. Di layar perangkat itu terpampang video siluet antara Hardi dan Irma—rekaman yang memperlihatkan keduanya seolah sedang berciuman.
Sementara itu, Hardi hanya berdiri beberapa langkah di depan Budi dengan tubuh tegang.
Awalnya, Budi bahkan menolak menerima kedatangannya. Namun setelah Hardi memohon sambil berlutut dan meminta kesempatan untuk menjelaskan semuanya, akhirnya pria itu mengizinkannya masuk.
Meski begitu, suasana di ruangan itu tetap terasa dingin dan tidak bersahabat.
"Baik," ujar Budi dengan tatapan tajam. "Sekarang jelaskan semuanya."
Tangannya mengangkat ponsel, menunjukkan kembali video tersebut.
"Semalam semuanya masih baik-baik saja. Sampai seseorang mengirim video ini pada saya."
"Saya memang pergi ke apartemen Irma, Yah..." katanya pelan.
Namun baru saja kata itu keluar, sorot mata Budi langsung berubah semakin tajam.
"Tapi saya sungguh tidak menciumnya," lanjut Hardi cepat. "Saya serius."
"Jangan coba-coba mengelak!" bentak Budi sambil menunjuk layar ponsel. "Saya sudah melihat videonya berkali-kali. Bahkan saya perbesar! Jelas sekali kamu mencium mantan istrimu sendiri!"
Suara bentakan itu menggema di ruang tamu.
Teh hangat yang tersaji di meja sejak tadi bahkan belum disentuh sama sekali.
"Jangan bilang selama ini kamu memanfaatkan putri saya demi bisa kembali pada mantan istri kamu?" tuduh Budi tanpa menahan emosi. "Kamu sengaja mendekati Adel supaya Irma cemburu? Supaya akhirnya dia mau rujuk sama kamu?"
Wajah Budi mulai memerah karena amarahnya sendiri.
Sementara Hardi hanya bisa menunduk.
"Saya benar-benar tidak menciumnya," ulang Hardi lirih. "Video itu nggak menunjukkan kejadian sebenarnya. Saya cuma memperingatkan Irma. Tidak lebih."
Namun penjelasan itu sama sekali tidak meredakan kemarahan Budi.
"Kalau niatmu memang seperti itu, berarti kamu benar-benar keterlaluan!" hardiknya. "Bagaimana bisa kamu memanfaatkan perasaan Adel demi mantan istri kamu?"
Hardi mengepalkan tangan pelan di atas lututnya.
Andai saja dia bisa mengatakan semuanya dengan jujur ...
Bahwa hubungan dirinya dan Adelia sejak awal hanyalah pura-pura karena Budi terus mendesak Adelia mencari pasangan.
Namun tekanan di ruangan itu membuat keberaniannya runtuh sedikit demi sedikit. Tatapan penuh kecewa dari Budi terasa begitu menyesakkan hingga Hardi kehilangan kepercayaan dirinya untuk menjelaskan lebih jauh.
"Saya tidak bohong, Yah," katanya sekali lagi dengan suara lemah.
"Jangan panggil saya ayah!"
Bentakan Budi membuat Hardi langsung terdiam.
"Siapa yang menyuruh kamu memanggil saya seperti itu?" lanjut pria itu penuh emosi.
Hardi refleks menundukkan kepala lebih dalam.
"Video ini sudah cukup jelas," ujar Budi sambil mengangkat ponselnya lagi. "Dan sekarang saya tahu alasan kamu mendekati putri saya. Entah siapa yang mengirim video ini, saya justru harus berterima kasih karena sudah membuka mata saya tentang siapa Hardi sebenarnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomansaDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
