***
Mobil matic berwarna biru navy melaju membelah jalanan setelah meninggalkan kantor Oradi. Hari itu, Adelia tidak pulang bersama Hardi karena pria itu masih memiliki urusan yang tak bisa ditinggalkan. Sebagai gantinya, Adelia dijemput oleh calon tunangannya, Egi.
Namun, sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa pengap.
Adelia duduk dengan wajah masam, kedua tangan terlipat di depan dada, menatap lurus ke jalanan melalui kaca depan tanpa minat berbicara sedikit pun.
"Adel, kamu kenapa sih? Cemberut terus dari tadi," tanya Egi, mencoba memecah keheningan. "Kamu mau makan sesuatu nggak? Aku tahu tempat makan enak. Sekalian isi perut sebelum aku antar pulang."
"Aku nggak lapar," jawab Adelia singkat dan dingin.
Egi melirik sekilas, kemudian tertawa kecil yang justru terdengar memuakkan di telinga Adelia.
"Jawabnya kok galak begitu, sih?" ucapnya dengan nada mendayu-dayu. "Aku kan cuma mau baik sama kamu."
Adelia memalingkan wajah, enggan menatap pria di sebelahnya. Entah kenapa, semakin lama berada dekat dengan Egi, rasa risih dalam dirinya justru semakin besar.
"Ada yang kurang dari aku?" lanjut Egi sambil memainkan alisnya. "Atau kamu masih marah gara-gara dulu?"
Tak ada jawaban.
Mobil tetap melaju di tengah padatnya jalan raya, sementara Egi tampak tak tahan membiarkan suasana terus sunyi. Lagi-lagi, dia yang membuka percakapan lebih dulu.
"Ngomong-ngomong ..." Egi mencondongkan sedikit kepalanya ke arah Adelia. "Kamu tahu nggak kenapa aku balik lagi sama kamu meskipun kita sempat ribut dulu?"
Adelia tetap diam.
"TimeY sekarang sukses besar," lanjut Egi tanpa peduli. "Perusahaan itu berkembang cepat banget dalam setahun terakhir. Strategi bisnisnya bagus, produknya makin dikenal di mana-mana. Jujur aja, aku bangga kerja di sana."
Perlahan dia tersenyum tipis.
"Tapi sebenarnya ..." suara Egi merendah, "aku juga mengincar harta Om Budi."
Kalimat itu membuat Adelia spontan menoleh cepat.
Egi tampak santai, seolah baru saja membicarakan hal biasa.
"Selama Om Budi percaya sama aku," lanjutnya, "aku bakal punya banyak cara buat menguasai hartanya. Sekalian juga ... menguasai TimeY."
Mata Adelia membelalak tak percaya.
"Apa?" suaranya meninggi. "Maksud kamu apa tadi?"
Egi malah terkekeh pelan.
"Ya begitulah. Aku cuma manfaatin kesempatan yang ada."
"Jadi selama ini, kamu mendekati ayahku cuma karena uang?" Adelia menatapnya penuh jijik. "Kamu sengaja bersikap baik supaya ayah percaya sama kamu?"
Untuk pertama kalinya, Adelia merasa dugaannya selama ini benar. Egi memang tidak pernah berubah. Di balik sikap manis dan tutur katanya yang lembut, pria itu tetap menyimpan niat buruk.
"Aku nggak akan biarin itu terjadi!" sergah Adelia. "Aku nggak mau menikah sama laki-laki yang cuma ngincer harta keluargaku!"
"Tenang dulu, Del." Egi berusaha tetap santai. "Bukan berarti aku nggak punya perasaan sama kamu. Nanti juga lama-lama aku belajar cinta sama kamu."
Ucapan itu justru membuat Adelia semakin muak.
Belajar mencintai?
Seolah hubungan mereka hanyalah transaksi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomanceDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
