Bab 52

97 7 0
                                        

***

Enam bulan kemudian

Seorang wanita berambut kuncir kuda duduk santai di sofa sambil menikmati segelas kopi susu hangat. Kedua kakinya diangkat ke kursi kosong di depannya, tubuhnya bersandar nyaman sembari menatap layar televisi yang sedang memutar sebuah video berjudul A Day in My Life.

Video itu terasa sederhana, seperti vlog keseharian pada umumnya. Tidak ada efek suara berlebihan, hanya musik relaksasi yang mengalun lembut menemani setiap adegan.

Di layar, tampak sebuah keluarga sedang makan bersama sambil bercanda.

"Calon saudara ipar gue nih," celetuk seorang pria dari balik kamera.

"Hussh, diam. Kakak dan kakak ipar lagi rekaman," balas suara seorang wanita muda yang tidak ikut menampilkan wajahnya.

Pria berambut agak panjang di video itu hanya mengangkat bahu santai sebelum kembali fokus pada makanan di depannya.

Wanita yang menonton video tersebut tersenyum kecil.

Itu adalah Irma.

Dan pria yang sedang muncul di layar televisi itu adalah Hardi.

"Kamu lagi nonton apa?"

Suara Rafli membuat Irma sedikit menoleh. Pria itu baru saja duduk di sampingnya sambil ikut memandang televisi.

Rafli memperhatikan beberapa adegan di layar sebelum akhirnya terkekeh pelan.

"Wah... mereka kelihatan bahagia banget."

Tatapannya tertuju pada Hardi yang sedang duduk di samping Adelia dalam vlog tersebut.

"Hardi juga kelihatannya nyaman banget sekarang."

Irma terdiam.

Namun saat adegan memperlihatkan Hardi mencium pipi Adelia dengan santai di depan kamera, ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya.

"Aku iri lihat mereka," gumam Irma pelan.

Rafli langsung menoleh.

"Sudahlah," katanya lembut. "Ngapain terus mikirin Hardi dan hidupnya? Kita juga sudah punya kebahagiaan sendiri."

Senyum kecil muncul di wajah Rafli. Tatapannya penuh ketulusan ketika menatap Irma.

"Setidaknya sekarang kita sudah mulai semuanya lagi dari nol."

Irma menunduk perlahan.

Enam bulan terakhir benar-benar mengubah dirinya.

Wanita yang dulu dikenal sombong, haus pengakuan, dan suka memamerkan pencapaiannya kini menjadi jauh lebih tenang. Begitu pula Rafli. Skandal besar yang menghancurkan nama mereka ternyata juga menjadi pelajaran paling keras dalam hidup mereka.

Irma akhirnya sadar bahwa menyakiti orang yang selalu tulus padanya—seperti Hardi—adalah kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan.

Tiba-tiba mata Irma mulai berkaca-kaca.

Air mata jatuh perlahan di pipinya.

"Aku masih merasa bersalah sama Hardi," bisiknya lirih.

Rafli langsung merangkulnya pelan.

"Melihat dia sebahagia itu ..." lanjut Irma dengan suara bergetar, "aku jadi sadar kalau mungkin selama ini aku malah menghambat hidupnya. Bisa jadi dia dan Adelia sudah jauh lebih bahagia kalau aku nggak pernah hadir di hidupnya."

"Jangan berpikir begitu terus," ujar Rafli lembut sambil mengusap rambut Irma perlahan. "Yang sudah terjadi nggak bisa diubah."

Irma hanya diam dalam pelukan Rafli.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang