***
Pertunangan Egi Wijaya dengan Adelia Kusuma makin mendekati hari sesuai rencana. Persiapan pun sudah 70%. Kini yang tersisa hanyalah meninjau gedung yang akan digunakan untuk acara lamaran nanti.
Adelia tentu sangat gugup. Bukan gugup sebab akan menjadi istri Egi, melainkan gugup karena ingin memperlihatkan wujud asli Egi di acara nanti. Dia belum bisa membayangkan bakal seheboh apa bila menunjukkan suara Egi yang rendah namun mematikan.
Saat ini Adelia berada di kamar, bersiap pergi bersama Egi untuk mengecek gedung acara. Tentu, mau tak mau dia harus terus mengikuti alur daripada membantah. Membatalkan pertunangan secara tiba-tiba hanya akan membuat ayah dan ibunya kecewa besar. Karena itu, Adelia memilih bertahan sampai waktu yang tepat tiba.
Di depan meja rias, Adelia menatap pantulan dirinya sendiri di cermin sambil tersenyum tipis. Jemarinya memoles bedak perlahan pada wajah putih susunya hingga hasil riasan tampak semakin halus. Kini dia benar-benar kagum melihat dirinya sendiri.
Setelah itu, Adelia mulai memberi sentuhan akhir. Pensil alis digores mengikuti bentuk alaminya, lalu eyeshadow sederhana dipulas tipis agar tak terlihat berlebihan. Tak lupa, face mist disemprotkan agar riasannya tetap tahan lama dan tampak natural.
Kelar urusan riasan, Adelia dikejutkan dengan ponsel yang berdering nyaring di atas meja. Segera tangannya terentang meraih ponsel tersebut dan mematri wajah yang antusias. Tentu saja si penerima telepon adalah Hardi.
"Mas Hardi," sapa Adelia penuh semangat. "Kamu nggak ada kegiatan di akhir pekan?"
"Sejujurnya aku lagi di kafe," jawab Hardi dari seberang telepon. "Kebetulan kafenya ada di seberang gedung yang bakal dipakai buat acara lamaran kamu."
Adelia spontan mengangkat kedua alisnya.
Dia sempat ngira Hardi hanya akan menghabiskan akhir pekan di apartemen sambil rebahan atau bekerja menggunakan laptop. Namun ternyata pria itu justru berada di dekat gedung tempat pertunangannya nanti berlangsung.
Padahal sebelumnya Adelia memang sempat memberitahu soal agenda pengecekan gedung bersama Egi.
"Nanti setelah kamu selesai cek gedung sama Egi," lanjut Hardi, "kamu nyebrang ke kafe ya sebentar."
Adelia terdiam sesaat sebelum akhirnya bertanya pelan, "Kamu ke sana buat kerja?"
Hardi berdeham pelan sebagai jawaban.
"Aku masih harus bikin dan meninjau KPI untuk iklan baru dari tim kita," jelasnya. "Belum lagi content plan yang harus direvisi. Pokoknya masih banyak kerjaan."
Mendengar itu, hati Adelia tiba-tiba terasa hangat.
Bahkan di akhir pekan pun Hardi tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai manajer tim. Dan tanpa sadar, Adelia semakin merasa bahwa pria seperti itulah yang sebenarnya dia inginkan.
"Baiklah kalau begitu, Mas," jawabnya pelan.
"Tutup saja teleponnya," ujar Hardi sambil tertawa kecil. "Katanya buru-buru mau cek gedung. Aku juga nggak mau ganggu kamu sama Egi. Nanti malah dikira kita main belakang lagi."
Adelia ikut tertawa, meski tawanya terdengar kering.
"Baiklah," balasnya. "Nanti setelah selesai cek gedung, aku suruh Egi pulang. Soalnya memang cuma itu agenda hari ini."
Hardi kembali berdeham kecil, lalu sambungan telepon terputus lebih dulu dari pihaknya.
Adelia perlahan menjauhkan ponsel dari telinga.
Namun belum sempat dia mematikan layar, notifikasi pesan dari Egi langsung muncul. Spontan wajah Adelia mengendur.
Del, aku sudah di depan. Cepat keluar. Aku nggak bisa lama-lama nunggu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomanceDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
