***
"Wah... malam ini lebih indah dari beberapa hari lalu," gumam Adelia sambil mendongak ke langit. "Bintangnya kelihatan makin terang."
Sorot matanya memantulkan cahaya bintang-bintang yang bertaburan di atas balkon apartemen Hardi. Bibirnya membentuk senyum tipis seperti bulan sabit, sementara angin malam perlahan memainkan ujung rambutnya.
Hardi yang berdiri di samping hanya bisa memperhatikan Adelia diam-diam.
Entah kenapa, melihat wanita itu menikmati hal sederhana seperti langit malam selalu membuat dadanya terasa hangat.
"Semua memang indah," ujar Hardi pelan. "Termasuk kamu."
Adelia langsung menoleh cepat.
"Indah di mata kamu aja, kan?" balasnya sambil memukul pelan lengan Hardi. Tawanya pecah kecil setelah itu.
"Aku serius."
Hardi terkekeh pelan melihat reaksi Adelia yang salah tingkah.
"Kamu memang indah."
"Iyain aja deh." Adelia pasrah sebelum menyesap susu cokelat hangat di tangannya.
Suasana balkon kembali tenang. Hanya ada semilir angin malam dan lampu kota yang berpendar di kejauhan.
"Oh iya," ucap Adelia tiba-tiba. "Kita masih punya satu proyek influencer yang harus diselesaikan bareng. Menurutmu kamu bakal pindah ke TimeY kapan?"
Hardi ikut menyesap cokelat hangatnya sebelum menjawab.
"Mungkin setelah menikah," katanya santai. "Lagipula pertunangan aja masih tahap rencana."
Adelia mengangguk pelan.
"Benar juga. Semua butuh persiapan matang." Dia menghela napas kecil. "Apalagi aku sempat bikin acara pertunanganku sendiri berantakan."
Hardi meliriknya sekilas.
"Terus gimana kelanjutannya? Pihak Egi gimana?"
"Orang-orang malah banyak mendukungku," jawab Adelia. "Keluarga Egi juga sudah minta maaf karena dia sempat kasar. Mereka bahkan mengganti sebagian dana acara yang dulu pakai uang keluargaku."
Nada suaranya terdengar campur aduk antara lega dan kecewa.
"Padahal dulu ayahku hampir mempromosikan Egi jadi manajer tim digital marketing," lanjutnya lirih. "Tapi setelah lihat sifat aslinya ... ayahku langsung berubah pikiran."
Hardi mendengarkan dengan tenang.
Saat Adelia bercerita, Hardi merasa bisa memahami luka yang sempat wanita itu alami. Ada rasa kecewa, marah, sekaligus lega karena semuanya akhirnya terbongkar sebelum terlambat.
Namun ketika pembicaraan mulai mengarah pada Irma, Hardi justru sedikit terdiam.
"Ngomong-ngomong ..." Adelia menoleh penasaran. "Gimana keadaan Irma sekarang setelah semuanya terbongkar?"
Hardi memandang ke arah langit sebelum menjawab pelan.
"Dia hancur."
Nada suaranya terdengar datar.
"Dia datang sendiri ke apartemenku. Minta maaf atas semua yang terjadi."
Hardi lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celananya dan menunjukkannya pada Adelia.
"Irma bahkan mengembalikan uang yang dulu kupakai buat membelikan hadiah untuknya."
Adelia sedikit terkejut.
"Banyak juga ..."
"Tentu," jawab Hardi sambil tersenyum pahit. "Kamu kan tahu dulu aku benar-benar cinta sama dia. Aku rela melakukan apa saja buat dia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomansaDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
