Bab 40

101 7 0
                                        

***

Sepulang kantor, Adelia memenuhi ajakan Egi untuk bertemu di sebuah kedai kopi yang letaknya bersebelahan dengan Kafe Brilliant. Sebenarnya, Adelia sama sekali tidak berminat mampir atau sekadar bersantai setelah bekerja. Namun, Egi terus mendesaknya hingga wanita itu tak punya pilihan selain datang memenuhi janji temu tersebut.

Meski begitu, Adelia sendiri yang memilih tempatnya.

Mood-nya sedang buruk, dan bertemu Egi jelas bukan cara terbaik untuk memperbaikinya.

"Del, aku mau tanya sesuatu."

Egi membuka percakapan sambil mendorong minuman pesanannya ke arah Adelia. Pria berkemeja hitam itu lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap Adelia lekat-lekat.

"Mau tanya apa?" balas Adelia santai sambil menaikkan salah satu kaki.

"Waktu aku antar kamu ke kantor tadi... kenapa kamu senyum-senyum?"

Nada bicara Egi terdengar seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangka.

Adelia mengernyit bingung.

"Maksudnya senyum-senyum?"

"Del, aku lihat sendiri." Tatapan Egi makin tajam. "Kamu terus senyum. Sebenarnya kamu lagi mikirin apa?"

Nada ketus pria itu mulai terdengar jelas. Egi tak suka melihat sesuatu yang jarang dilakukan Adelia saat bersamanya. Biasanya wanita itu memasang wajah datar atau masam. Namun pagi tadi, Adelia justru tampak tersenyum sendiri sambil melamun, bahkan tak fokus memandang dirinya.

Dan itu membuat Egi curiga.

"Kamu kenapa jadi posesif begitu sih, Egi?" tanya Adelia santai, seolah tak terganggu sedikit pun. "Apa salahnya aku senyum? Aku cuma lagi mikirin kinerja kantorku yang mulai bagus."

Egi mendadak terdiam.

Dia sadar dirinya terlalu curiga.

Sementara itu, Adelia sengaja mengembuskan napas panjang seolah sedang menahan kesal.

"Egi, kamu pikir aku senyum karena lagi mikirin pria lain?" tanyanya pelan. "Salah besar. Aku nggak pernah mikirin pria lain selain kamu. Jadi jangan cemburuan begitu."

Ucapan itu langsung membuat Egi merasa bersalah.

"Ma–maaf, Del." Suaranya melunak. "Aku cuma sempat cemburu tadi pas jemput kamu di Oradi. Soalnya kamu senyum-senyum sendiri."

Adelia hanya mengangguk kecil.

"Memangnya seberapa bagus sih perkembangan di Oradi sampai bikin kamu sebahagia itu?" tanya Egi lagi.

Kali ini, Adelia sengaja memunculkan senyum tipis di wajahnya. Setelah mengetahui niat asli Egi, dia memilih untuk tidak gegabah. Sebaliknya, Adelia ingin pria itu masuk semakin dalam ke jebakan yang sudah ia siapkan.

Bukti demi bukti mulai terkumpul perlahan.

"Ya jelas kabar bahagia," jawab Adelia ringan. "Optimasi iklan di Oradi sekarang jauh lebih bagus dibanding sebelumnya. Makanya nanti ada reward kecil-kecilan buat tim."

Egi langsung menyandarkan tubuhnya sambil bertepuk tangan pelan.

"Wah, bagus kalau begitu." Dia tertawa kecil. "Sama seperti TimeY. Perusahaan itu juga sukses karena digital marketing-nya gercep banget. Tapi ya ... kalau pemimpinnya tepat, semua aspek pasti berhasil. Termasuk tim kreatifnya."

Mendengar itu, sebuah ide langsung muncul di kepala Adelia.

Diam-diam, wanita ber-blazer putih itu membuka tas tangannya dan mengambil ponsel berwarna perak yang sengaja dijadikan alat perekam. Beruntung perhatian Egi masih sibuk membual soal TimeY.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang