Bab 39

92 4 0
                                        

***

"Maafkan saya. Saya nggak tahu Irma bakal seperti ini. Saya akan membujuk dia untuk ikut rapat bersama tim kalian." Rafli berulang kali menundukkan kepala di hadapan Dani yang menatapnya tajam sambil menarik napas panjang, seolah sedang menahan amarah yang siap meledak kapan saja.

"Kamu nggak mikir dampak jangka panjangnya, hah?" suara Dani meninggi. Pria dengan blazer abu-abu terang itu menunjuk Rafli menggunakan pulpen di tangannya. "Seorang Irma Riyanti, yang sudah menaikkan performa FoodBeary dan handal mempromosikan berbagai layanan kami, malah seenaknya bersikap seperti ini. Kalau begini terus, lebih baik kami cari brand ambassador lain saja. Bahkan tanpa Irma pun, FoodBeary tetap bisa naik dengan bantuan influencer yang benar-benar profesional."

"Sekali lagi saya minta maaf. Saya bakal berusaha mengatur pertemuan dengan Anda dan tim. Saya janji akan membawa Irma lagi ke sini."

Dani memperbaiki letak kacamatanya sebelum kembali menatap Rafli intens.

"Ingat. Kalau sampai Irma nggak datang lagi ke kantor, siap-siap saja. Kamu harus menguras tabunganmu untuk membayar denda karena memutuskan kontrak lebih dulu. Kalian berdua yang akan tanggung. Mengerti?"

Nada bicara Dani terdengar tegas tanpa celah untuk dibantah. Kali ini dia benar-benar tidak main-main. Keputusan besar itu sengaja diambil agar tak ada lagi yang meremehkannya, termasuk Irma yang mulai bertindak seenaknya.

"Baik, Pak. Maaf sekali lagi."

Meski Rafli menjadi penyebab rumah tangga Hardi dan Irma hancur, Dani tetap mengakui satu hal: pria itu masih punya harga diri dan tahu cara menghormati orang lain.

Setelah Rafli keluar dari ruang kerja tim digital marketing, Dani langsung mengembuskan napas kasar. Tenaganya terasa terkuras hanya karena meluapkan emosi. Aneh. Biasanya dia tidak seperti ini.

Untuk menjernihkan pikirannya, Dani memutuskan pergi ke pantry dan membuat segelas kopi. Kopi manis selalu menjadi alternatif terbaik saat kepalanya mulai sulit diajak kompromi.

Saat akan mengaduk kopi menggunakan sendok kecil, seorang pria berkaos polo putih tiba-tiba berdiri di sampingnya sambil ikut membuat minuman.

"Anda hebat, Pak Dani," celetuk Rendra sambil tersenyum. "Anda bisa setegas itu sama Rafli. Biasanya tuh anak suka melawan. Tapi pas Anda kasih tatapan kayak mata elang tadi, dia langsung menciut."

Dani tertawa kecil dengan bibir mengatup.

"Memangnya kamu pernah lihat Rafli melawan di mana? Perasaan Irma yang lebih sering melawan."

"Entah sih, apa saya yang salah ingat?"

Dani hanya menggeleng pelan sambil terus memutar sendok di dalam cangkir agar gula larut sempurna.

"Menurut saya, Rafli itu sebenarnya orang baik, Rend," ujar Dani akhirnya. "Dia bukan tipe orang yang meremehkan sesuatu."

Rendra spontan mengernyit tidak setuju.

"Baik dari mananya, Pak? Dia sempat melawan juga kok. Dia sama saja kayak Irma."

"Mungkin pandangan kita berbeda," balas Dani tenang. "Memang dia jadi penyebab rumah tangga Kak Hardi dan Irma hancur. Tapi bisa saja sekarang dia mulai berubah."

Dani tak ingin memperpanjang pembahasan itu. Baginya, setiap orang punya penilaian masing-masing.

"Besok lihat perkembangan Irma dulu. Apa dia benar-benar mau ikut rapat atau tidak. Saya masih punya banyak pekerjaan lain selain mengurus Irma."

"Baik, Pak."

Rendra langsung mengangguk patuh.

Di sisi lain, Hardi dan Adelia berjalan berdampingan menuju ruang absensi. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, tanda seluruh pegawai Oradi bisa pulang ke tempat tinggal masing-masing.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang