Bab 18

99 8 0
                                        

***

"Jadi, Vina istrinya mantanku itu sudah hamil ya?" tanya Adelia penasaran setelah mendengar cerita Hardi barusan.

Hardi mengangguk sambil menyendok ayam goreng ke piringnya. "Hampir enam minggu, kata Rendra."

"Wah, cepat juga, ya," sahut Adelia dengan nada tulus. "Aku memang sudah lama nggak ada hubungan apa-apa sama dia, tapi... seneng aja dengarnya. Berarti dia sudah benar-benar move on."

Hardi membalas dengan senyuman ringan. "Pastinya. Dia kelihatan bahagia banget sama Vina. Apalagi sekarang Vina lagi bed rest, Rendra jadi ekstra perhatian."

Adelia mengangguk pelan, lalu kembali menyuap makanannya.

"Kalau Firman gimana? Aku tadi lewat, unitnya sepi banget," tanyanya lagi.

"Dia masih sakit. Sekarang tinggal di rumah orang tuanya. Unitnya kosong sudah hampir sebulan," jawab Hardi sambil mengambil dendeng sambal ijo.

"Kasihan juga..." gumam Adelia. "Katanya sempat ada masalah rumah tangga juga, ya?"

Hardi menghela napas pelan. "Iya, aku juga dengarnya begitu. Tapi ya... itu urusan mereka. Nggak enak kalau dibahas terus."

"Iya juga," sahut Adelia, mengangguk paham.

Suasana sempat hening beberapa detik, hanya diisi suara sendok yang beradu pelan dengan piring.

"Eh, di kantorku juga ada yang namanya Firman," ujar Hardi tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana. "Tapi dipanggil Hanif."

Adelia tertawa kecil. "Banyak juga, ya."

"Di FoodBeary sendiri, posisi manajer digital marketing masih dipegang Dani," lanjut Hardi. "Tapi nanti rencananya bakal digantikan Firman kalau dia sudah pulih."

"Berarti Dani dipindah ke divisi lain, ya?" tanya Adelia.

"Iya. Kemungkinan begitu."

Adelia mengangguk, lalu kembali fokus pada makanannya. Tampak benar-benar menikmati setiap suapan.

"Mas Hardi beli semua ini sendiri?" tanyanya sambil melirik deretan makanan di meja.

Hardi menggeleng. "Nggak semuanya. Bihun goreng, mi goreng, sama ayam goreng madu itu buatan ibuku. Sisanya beli."

"Pantas rasanya beda," ujar Adelia sambil tersenyum. "Yang ayam ini bumbunya berasa banget. Kayak masakan rumahan. Nggak lebay, tapi enak."

Hardi tersenyum kecil. "Ibuku memang jago masak."

"Jadi kangen masakan rumah," gumam Adelia pelan, lalu tertawa kecil. "Ibuku juga selalu masak tiap malam."

Hardi menatapnya sejenak, lalu menyengir ringan. "Eh, tapi malah aku ajak kamu ke sini. Nggak pulang ke rumah."

Adelia ikut tertawa. "Nggak apa-apa, Mas. Daripada makanannya terbuang."

Tiba-tiba Adelia menjentikkan jarinya. "Eh, tapi sebenarnya bisa juga loh. Mas Hardi kasih ke satpam atau tetangga. Lumayan buat kenalan."

Hardi mengangguk pelan. "Kepikiran sih. Cuma masih agak canggung aja."

"Kalau sudah kenal, pasti lebih enak," sahut Adelia santai.

Hardi tersenyum, lalu kembali makan.

"Ngomong-ngomong, Rendra memang lagi fokus banget sama Vina sekarang," tambah Adelia. "Wajar sih, apalagi soal bayi."

"Iya," balas Hardi pelan. "Nggak terasa sahabatku itu mau jadi bapak."

Tawa renyah Hardi terdengar beberapa detik, namun ada sesuatu yang samar di matanya.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang