***
Dua tahun kemudian
Lengkingan tangisan bayi memecah hening pagi.
Seorang pria dengan piyama putih polos terbangun mendadak. Matanya bergerak cepat, mencari sumber suara yang mengusiknya. Beberapa detik berlalu sebelum kesadarannya kembali utuh—tetangga barunya, Firman Hanif, memiliki seorang bayi yang lahir beberapa bulan lalu.
Unit di sebelahnya memang sudah berganti penghuni. Dulu ditempati Firman Setiawan, kini digantikan oleh Firman Hanif—mantan rekan kerja Hardi di FoodBeary.
Hardi menghela napas, lalu meregangkan tubuhnya. Selimut dia singkirkan kemudian melangkah keluar dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai dingin saat berjalan menuju dapur.
Ia membuka kulkas.
Kosong.
Hanya udara dingin yang menyambutnya—seperti kehampaan yang belakangan terasa akrab. Dia mengusap wajahnya pelan. Belum sempat belanja sejak pulang kerja kemarin. Satu-satunya pilihan: turun ke minimarket dekat pintu masuk apartemen.
Dengan enggan, Hardi keluar dari unitnya.
Pintu di sebelah terbuka hampir bersamaan.
Hanif muncul, menggendong bayi laki-lakinya yang menangis kencang, tubuh mungil itu meronta dalam pelukan.
"Selamat pagi, Kak Hardi. Maaf ya. Arkha bangunin Kakak?" tanya Hanif, wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
Hardi tersenyum, mengecilkan mata, dan menjawab dengan lembut, "Nggak, kok. Bukan anakmu yang bikin aku terbangun." Dia melihat Hanif dengan tatapan yang penuh pengertian. "Justru karena aku ingin berangkat kantor, makanya keluar untuk beli roti di minimarket."
Hanif mengangguk memahami, sambil tetap memeluk anaknya yang terus menendang perutnya dengan kaki. Tangisan Arkha masih menggema di lorong yang tenang. Hanif menepuk-nepuk punggung anaknya, berusaha menenangkan.
"Kenapa dengan Arkha?" tanya Hardi penasaran.
"Nggak tahu, Kak. Tadi bangun langsung rewel," jawab Hanif, sedikit panik. "Mungkin karena mamanya sudah berangkat duluan."
Hardi mengangguk pelan, mencoba memahami. "Coba ajak ke luar sebentar. Ke taman lantai delapan, dekat kolam itu. Siapa tahu dia butuh udara segar."
Saran sederhana—lebih pada insting daripada pengalaman. Dia tahu bahwa udara segar dan kehadiran anggota keluarga biasanya dapat meredakan kegelisahan anak-anak kecil, meski belum pernah mengalami sendiri.
Hanif tampak ragu sejenak, lalu mengangguk. "Bisa jadi... mungkin dia kangen mamanya juga. Atau lupa mencium Arkha sebelum pergi ke kantor, makanya nangisnya kencang banget."
Hardi hanya memberikan senyuman penuh pengertian sebagai respons. Kemudian tak lama, Hanif masuk sebentar ke unitnya, lalu keluar lagi dengan tas berisi perlengkapan bayi—mainan dan botol susu bergambar jerapah.
"Semoga saja dengan kubawa ke taman lantai 8 bisa berhenti nangisnya, Kak," kata Hanif dengan harapan dalam suaranya, seolah mengikuti petunjuk Hardi. "Aku nggak bisa telepon mamanya sekarang, dia sedang sibuk mengurus sebuah proyek. Apalagi hari ini hari Jumat. Dia memegang peran penting di kantornya."
Hardi hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Apa Kak Hardi nggak sekalian ikut kami, untuk naik lift?" tawar Hanif begitu kakinya ingin melangkah.
Hardi mengibas tangan menolak dengan lembut. "Nggak usah, kamu duluan saja."
Hanif mengangguk, lalu berjalan cepat sambil tetap menggendong Arkha yang masih menangis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomanceDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
