Bab 31

117 7 0
                                        

***

[Dih, katanya udah move on dari Irma Riyanti. Katanya udah lupain. Tapi yang gw lihat apaan? Hardi malah ciuman sama mantan istri sendiri? Pasti pacarnya bakal sakit hati lihatnya.]

Di balik layar komputer, senyum merekah tergambar di wajahnya. Ia berbinar-binar penuh semangat, tak henti-henti terpaku pada layar yang memikatnya.

"Asik, asik. Ini yang disebut mahakarya," celetuk pria wajah tirus itu.

"Gimana, sayang? Setelah di-post semalam, apa ada yang berkomentar?" Wanita dengan piyama merah gelap berjalan menuju meja komputer sambil memonitor perkembangan.

"Aman, beb. Semua yang berkomentar rata-rata pendukung kamu. Terus coba lihat. Ada yang mengumpat bilangnya 'dasar lelaki bucin!' tuh, tuh ada lagi. 'Benar-benar Hardi, move on aja nggak bisa. Payah!'"

"Bagus, sayang. Nggak sia-sia cara kerja kamu."

Wanita rambut urai panjang itu mulai berjalan mendekati jendela kamar dengan langkah lembut. Wajahnya tersenyum miring, menampilkan ekspresi kemenangan yang tak terbendung. Dalam diam, dia bermonolog. Percaya bahwa misinya kali ini telah sukses melebihi harapan.

"Memang enak ditipu? Pak Hardi Yudhistira?"

Situasi di esok hari, setelah acara makan malam. Hardi kini merasa terombang-ambing. Pesan dari Irma semalam bikin hidupnya perlahan hancur kembali.

Padahal seharusnya normal-normal saja, bahkan keluarga Adelia tak tahu menahu tentang pesan tersebut.

Tetapi sekarang, Irma melampirkan bukti bahwa dia telah melampirkan pesan pada mereka. Semuanya mengirimkan pesan yang sama, terkhusus ayah dan ibu Adelia, Irma menambahkan peringatan agar jangan terima Hardi sebagai anggota keluarga. Hardi adalah pria terburuk yang tidak memegang janji.

Lebih parah lagi, Irma juga melampirkan bukti obrolan Hardi dengan wanita lain. Menggunakan kata-kata 'sayang' dan gombalan bikin gumoh.

Hardi yakin itu bukan dirinya melainkan obrolan palsu yang dibuat Irma sendiri, hanya karena ingin menghasut mereka.

"Bukannya Irma sudah berubah?" keluh Hardi, wajahnya dipenuhi kebingungan. "Dia udah janji akan menjadi lebih baik. Tapi apa ini?"

Tak terima situasi, Hardi menggeram sambil menyugar rambutnya frustasi. Irma di luar dugaan sekarang. Nyaris terlena oleh kebaikan yang diterimanya dari Irma.

Harusnya Hardi melawan, harusnya Hardi melihat titik lemah Irma. Bukan malah terjebak oleh permainan liciknya.

Pujian yang seharusnya memenuhi kolom komentar di postingan Instagram kini kembali dengan hujatan ala-ala warganet yang bikin sakit hati. Rasanya Hardi tak sanggup membuka ponsel.

Satu pesan pribadi masuk di benda pipih itu. Hardi iseng mengecek, dari salah seorang warganet. Awalnya ingin menghindari namun rasa penasaran yang menggebu membuatnya membuka aplikasi Instagram bagian Direct Message.

[Heh! Kalau masih cinta sama Irma ngapain pisah? Jelas-jelas Irma sudah punya pengganti malah kamu embat lagi. Masih belum move on dari mantan kah? Tidak tahu malu. Mana situ masih ada pacar, bilang apa nanti dia kalau kamu tahu gelagatmu, hah?]

Helaan napas Hardi terdengar, kembali menutup ponselnya. Harusnya Hardi masuk kerja sejam lalu, namun Hardi sengaja menutup diri dari orang-orang di kantor. Termasuk ingin menghapus aplikasi perpesanan demi ketenangan.

Meja makan bulat di apartemennya sudah kotor dengan piring bekas roti serta botol minuman. Biasanya Hardi langsung bersih-bersih meja setelah dipakai sarapan. Terkadang membuang sampah jika tempat sampahnya menumpuk.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang