***
Hardi terkejut ketika mendapati seseorang berdiri di depan pintu apartemennya. Namun rasa terkejut itu berubah menjadi keheningan panjang saat melihat sosok yang sudah sangat dikenalnya—Irma Riyanti, mantan istrinya.
Untuk beberapa detik, Hardi hanya berdiri mematung sebelum akhirnya membuka pintu dan mempersilakan Irma masuk.
Begitu Irma melangkah ke dalam, Hardi langsung menyadari banyak perubahan pada wanita itu.
Irma yang dulu selalu tampil cantik dengan riasan natural kini terlihat jauh berbeda. Rambut panjangnya tampak kusut dan tidak terurus. Wajahnya pucat, dengan kantung mata yang jelas terlihat akibat kurang tidur. Bibirnya kering tanpa polesan lipstik seperti biasanya. Bahkan pakaian yang dikenakannya hanya cardigan sederhana dan celana denim pensil, jauh dari kesan glamor yang selama ini melekat pada dirinya.
Hardi diam-diam memperhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa.
Sementara Irma berdiri dengan gelisah sebelum akhirnya membuka suara.
"Maafkan aku, Hardi. Aku benar-benar minta maaf."
Kalimat itu keluar bersamaan dengan tubuh Irma yang perlahan berlutut di hadapan Hardi.
Hardi terdiam. Tatapannya tetap tertuju pada Irma, mencoba membaca ketulusan di wajah wanita itu.
"Aku menyerah," lanjut Irma lirih sambil menunduk. "Kamu menang. Dan kamu memang pantas menjatuhkanku di saat aku hampir mendapatkan semua impianku."
Irma tersenyum pahit.
"Kamu tahu? Aku hampir menandatangani kontrak dengan brand internasional. Tapi sekarang semuanya hancur. Semua kerja sama dibatalkan. Nggak ada lagi yang mau bernegosiasi denganku."
Tangannya saling menggenggam erat, gemetar menahan emosi.
"Aku akui kamu memang cerdik. Tapi kali ini aku datang bukan untuk marah." Suara Irma mulai bergetar. "Aku sungguh minta maaf. Aku banyak menyakitimu. Aku sadar sekarang ... aku benar-benar salah."
Hardi masih diam.
Sementara Irma terus mengusap kedua telapak tangannya gugup, seolah takut permintaan maafnya tidak akan diterima.
"Aku akan melakukan apa saja untuk menebus semuanya," ucap Irma dengan mata berkaca-kaca. "Aku ingin berubah jadi lebih baik ... untuk diriku sendiri."
Tangis Irma perlahan pecah.
Mendengar isakan itu membuat hati Hardi sedikit melunak. Dia akhirnya menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan Irma.
"Kamu tahu apa kesalahan terbesarmu?" tanya Hardi pelan, tetapi nadanya tetap terasa tajam.
Irma mengangkat wajahnya perlahan.
"Aku mungkin masih bisa melupakan fitnah yang kamu sebarkan tentangku," lanjut Hardi. "Tapi perselingkuhan kamu ... itu luka paling besar yang pernah kamu kasih ke aku."
Tatapan Hardi menusuk lurus ke mata Irma.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanyanya dengan suara berat. "Apa yang kurang dariku?"
Irma langsung menunduk lagi. Bibirnya bergerak pelan, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Hardi menghela napas panjang.
"Aku tahu aku juga salah," lanjutnya. "Aku terlalu sibuk bekerja sampai kadang lupa meluangkan waktu buat kamu. Tapi saat itu ... aku benar-benar ingin menghabiskan waktu bersama kamu."
Nada suaranya mulai terdengar getir.
"Dan yang aku lihat malah kamu bersama pria lain."
Irma menutup wajahnya sebentar, menahan rasa bersalah yang terus menghantam dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mission to be Liar
RomanceDiduga tidak setia karena menceraikan istrinya, Hardi seakan membawa beban baru. Hardi dihujat tanpa sebab, membuatnya tertekan dan memilih resign dari kantor tempatnya bekerja. Tanpa sengaja, Hardi dipertemukan dengan Adelia. Keakraban kembali terj...
