Bab 19

107 7 0
                                        

***

Dua hari kemudian

(Malam ini kamu jadi datang, kan, Pak Hardi Yudhistira? Awas saja kamu nggak datang. Tahu kan akibatnya apa?)

Baru saja keluar dari unit apartemennya, Hardi sudah disambut pesan bernada ancaman dari Irma. Di depan lift, Hardi berulang kali mendengus seraya tatapannya yang sempat terpaku pada layar ponsel, lalu dengan cepat mengusap layar untuk keluar dari aplikasi pesan.

Ucapan Adelia dua hari lalu tiba-tiba terlintas di kepalanya.

Kita bisa pura-pura pacaran lagi di acara ulang tahun Irma.

Hardi menggeleng pelan, seolah ingin menepis ingatan itu.

Ada sedikit penyesalan dalam dirinya. Seharusnya dia bisa datang sendiri. Menghadapi Irma tanpa harus melibatkan siapa pun—terutama Adelia.

Tetapi, perdebatan kecil teringat dengan jelas, bahkan setelah seharusnya Hardi hanya mengiyakan.

Mas Hardi sudah menjabat sebagai manajer divisi digital marketing sekarang. Katanya aku diperbolehkan ikut, tapi kok Mas masih ragu-ragu sih? Harusnya Mas nggak boleh nolak dong kalau aku meminta jadi pacar pura-pura Mas di acara manapun yang melibatkan keluarganya Mas. Bahkan aku udah bantuin Mas mencapai jabatan yang dimau. Ini juga kesempatan kita untuk bisa memanas-manasi Irma lagi, Mas.

Hardi sadar dirinya sempat menolak. Dia juga merasa mampu menghadapi semuanya sendiri. Tapi Adelia justru tidak tinggal diam, sempat mengancam akan menarik kembali bantuannya di kantor. Itu membuat Hardi kembali menghela napas panjang.

Apa Irma tahu aku datang dengan seseorang? Benar juga kata Adel kemarin. Dia udah banyak bantu agar aku bisa kerja kembali. Kenapa aku lebih mentingin ego ya? Aku terus ingat hal-hal yang pelik setelah bertemu Irma.

Tolong jangan berpikir yang bukan-bukan, Adelia itu orang baik.

Lift terbuka.

Hardi melangkah masuk, lalu menekan tombol menuju lantai parkir.

Ia bersandar sebentar, menatap pantulan dirinya di dinding logam lift.

Mungkin ini memang cara terbaik.

Di area parkir, Hardi berjalan cepat menuju mobilnya, lalu menekan remote hingga lampu kendaraan berkedip, kemudian membuka pintu.

Saat baru saja mengenakan sabuk pengaman, ponselnya berdering.

Nama Adelia muncul di layar.

Hardi segera mengaktifkan headset bluetooth.

"Halo, Del. Ada apa?" sapanya. "Aku lagi di parkiran, mau berangkat ke kantor."

"Mas Hardi ... jadi datang, kan, malam ini?" suara Adelia terdengar sedikit ragu. "Aku takut Mas berubah pikiran lagi."

Hardi terdiam sejenak, lalu menjawab lebih mantap.

"Aku datang, kok. Tenang aja. Setelah balik kerja, aku siap-siap, terus ke tempat acara."

Hardi menghentikan ucapan sebelum melanjutkan.

"Aku ... jemput kamu, ya?"

"Nggak usah, Mas," jawab Adelia cepat. "Aku diantar Kak Tio."

Hardi mengernyit. "Kenapa harus diantar? Aku bisa jemput."

"Kak Tio yang maksa. Mungkin dia juga diundang sama Irma."

Hardi terdiam sesaat, lalu mengangguk meski tak terlihat.

"Ya sudah. Sampai ketemu di kantor." Dengan cepat Hardi menutup telepon kemudian menyalakan mesin mobil.

Hardi menatap lurus ke depan, tangannya menggenggam setir sedikit lebih erat.

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang