Bab 27

100 8 0
                                        

***

"Masuklah." Rendra mempersilakan wanita blazer itu memijak unit apartemen miliknya.

"Maaf ngerepotin kamu, sampai harus jemput di lobby dulu untuk bisa naik ke unit kau," kata Adelia merasa tidak enak.

"Durasi lo di sini cuma 30 menit, habis itu langsung pulang." Rendra mengingatkan dengan suara rendahnya. "Bini gue lagi tidur di kamar, jadi jangan terlalu berisik."

Adelia mengangguk, lalu menarik pelan kursi di meja makan. Rendra hanya menyajikan susu kaleng bergambar beruang. Kemudian pria itu ikut duduk di hadapan Adelia.

"Kamu nggak ikut Kak Tio acara makan-makan? Bahkan kamu nggak ngabarin ke Mas Hardi." Adelia bertanya heran.

"Kan tahu bini gue sekarang lagi hamil. Gue nggak bisa keluar sampai malam, karena harus jaga dia sepulangnya dari kantor." Rendra menjawab sambil menyeruput susu miliknya. "Ngomong-ngomong, lo ngapain di sini? Lo ada masalah atau sekadar bicara sebagai mantan pacar?"

"Ini ada kaitannya dengan Mas Hardi. Kamu yang paling dekat sama dia, makanya aku mau tanya sesuatu." Ada keraguan di setiap kalimat yang diucapkan Adelia.

"Tanyalah. Aku dengar." Rendra menanggapi enteng.

"Barusan aku pengen ngajak Mas Hardi ngopi di Brilliant. Tapi katanya buru-buru mau ke ayahnya makanya nggak jadi. Hanya saja, aku Mas Hardi sedikit menggeram waktu nerima pesan WA. Aku pikir, itu pasti bukan ayahnya. Dia bilang gitu dengan alibi biar dia nggak mau nerima ajakan aku. Nggak masuk akal marah ketemu orang tua. Harusnya senang, kan?"

Adelia mulai membuka susu kaleng pemberian Rendra, sambil mengendalikan rasa gugup setelah bicara panjang lebar barusan.

"Hadeh, lo itu beneran pacaran sama Hardi nggak sih?" Rendra justru balik bertanya. "Segitu khawatirnya lo ke dia? Sampai malam-malam gini ke unit gue cuma nanya hal yang omong kosong?"

"Rendra, plis. Meski kita udah jadi mantan, tapi tolong jangan sikap kayak gitu." Adelia memelas sambil meraih punggung tangan Rendra. "Aku cuma khawatir aja terjadi sesuatu padanya. Bukan karena aku suka sama Mas Hardi, tapi apa salahnya cemasin manajer sendiri di kantor?"

Pria dengan kumis tipis itu bergeming. Telunjuknya memegang dagu, tampak memikirkan sesuatu.

"Bentar, gue coba telepon Hardi dulu. Tapi gue nggak mau bilang ya, lo datang ke unit gue."

Rendra segera merogoh ponselnya dari saku celana pendek abu-abu terang miliknya. Kemudian mencari kontak atas nama Hardi, lalu meneleponnya.

Tak lama menunggu, teleponnya diangkat si penerima.

"Halo, Hardi? Lo ada di mana?"

Adelia menatap Rendra dengan raut cemas. Seakan menunggu jawaban yang keluar dari mulut Rendra sendiri.

"Oh, lagi di rumah yang dekat SCBD itu? Ada Om Yudhis di situ? Lo mau nginap di sana?"

Hembusan napas lega mulai terdengar. Setidaknya dugaan Adelia salah. Jika Rendra sendiri yang bilang, maka Adelia pasti percaya. Dia tahu Rendra adalah sahabat Hardi yang paling dekat.

"Oke deh, bro. Iya. Titip salam sama Om Yudhis. Iya." Rendra menutup sambungan telepon kemudian beralih bicara pada Adelia. "Tuh. Dengar sendiri, kan? Hardi itu benar-benar temui bokapnya. Dia juga bilang nggak mau pulang dulu ke apart. Dia mau nginap di sana."

Adelia mengangguk pelan, mengerti maksud Rendra. "Iya deh. Thanks ya udah bantuin buat nelepon Hardi."

"Sama-sama." Balasan Rendra datar, kemudian melanjutkan ucapan. "Lagipula, Del. Kalau lo emang suka sama Hardi, udah ungkapin aja perasaan lo sama dia. Toh, si Hardi juga mungkin udah lama move on-nya. Lo jangan diam kayak patung gitu, ngarep Hardi yang duluan confess. Lo harus bergerak, Del."

Mission to be LiarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang